Tragedi Kemanusiaan

Sebuah tragedi kemanusiaan yang telah lama diprediksikan akan terjadi benar-benar menjadi kenyataan. Sebuah tragedi yang menggemparkan seisi sekolah. Sebuah tragedi yang menelan ± 40 orang korban dari kalangan siswa SMUNEL sendiri. Semua korban yang berjenis kelamin laki-laki ini dibantai dan dianiaya tanpa ampun. Bagian kepala korban terlihat hancur tak jelas apa bentuknya. Salah satu bagian dari kepala mereka dipotong dan dicincang menggunakan senjata tajam sejenis gunting.Bahkan di kelas XII IPA 2 yang siswa identik dengan manusia-manusia polos tanpa dosa malah menjadi penyumbang korban terbanyak dalam tragedi kali ini. Dari 13 siswa yang hadir pada saat itu, hanya sebatang yang berhasil lolos dari pembantaian. Sedangkan ke-12 orang lainnya harus merelakan kehancuran harga diri dan masa depan mereka di tangan seorang eksekutor berdarah dingin, pendatang baru namun namanya telah melegenda didunia persilatan.Dan yang lebih tragis lagi, setelah korban di bantai, mereka lalu ditinggalkan begitu saja untuk dijadikan bahan tertawaan para laki-laki yg penciptaannya kurang sempurna (wanita).Peristiwa ini tidak tidak akan terjadi seandainya saja para korban mendengarkan dan melaksanakan instruksi dari kepala Gengster beberapa hari sebelumnya. Kepala Gengster yang merupakan penanggung jawab pembantaian telah beberapa kali memberikan peringatan, baik yang berupa untaian kata-kata penuh makna sejuta arti maupun dengan tindakan yang sifatnya to the point.

tragedi kemanusiaan

Terlepas dari semua itu, para korban tetap berkeyakinan bahwa pembantaian akan di laksanakan pada tgl 13 mendatang, yaitu pada hari Senin tepat pada saat upacara Bendera Berani dan Suci. Karena itu, para siswa merancang strategi untuk potong rambut pada hari minggu supaya tidak terjaring operasi pada hari senin nanti. Namun apa daya, mereka harus memajukan jadwal cukurnya sebelum hari minggu. Dengan terpaksa mereka harus cukur agar rambutnya kembali terlihat keren meskipun kulit kepala mereka harus memantulkan cahaya matahari.

Waha… ha… ha….. Tepat sekali para pembaca yang BudiMan dan BudiBoy….
Tragedi yang saya maksud disini mungkin lebih tepat disebut dengan sebutan Tradisi Mattokka’, yaitu pesta pemotongan rambut asal-asalan yang tujuannya untuk memberi pelajaran kepada siswa yang membiarkan rambutnya panjang. Hasilnya adalah kepala dengan model bagaikan bekas ledakan ranjau pada perang di Kamboja.

Yah…. Itu adalah salah satu tragedi yang menimpaku pada tanggal 10 Oktober 2008. Masih ada satu lagi tragedy yang menimpaku pada hari itu, tragedi ini lebih dramatis lagi meskipun tidak didramatisir seperti cerita di atas. Tragedi yang satu ini menyangkut perasaan dan hati. Tragedi ini tidak usah di posting sekarang lah. :)

Untukmu yang menyapa malu-malu di samping lab Bahasa, tadi itu saya juga malu loh. :D

2 Comments on "Tragedi Kemanusiaan"

Hai, would be nice if you leave a reply. :D