super didi

Super Didi; Karena Jadi Ayah itu Seru!

Nonton film Indonesia lagi setelah sekian lama saya gak masuk bioskop, lebih tepatnya nonton film Indonesia dengan tema keluarga yang judulnya Super Didi. Terakhir nonton film Indonesia sih sekitar dua pekan yang lalu di Taman Menteng. Nonton ramean dengan set layar tancap, tapi dengan segala kemutakhiran big screen digital yang disediakan panitia pekan Hari Film Nasional 2016.

Nonton film Super Didi ini juga gak pernah direncanain dan saya memang gak pernah kepikiran buat nonton nih film. Meskipun sudah sering ngeliat publikasinya di Instagram yang ngebawa-bawa “film drama keluarga”, tema yang jarang diangkat akhir-akhir ini. Ketidaktertarikan saya itu ada akibat pemahaman dangkal saya perihal kondisi film Indonesia saat ini yang juga dipengaruhi keseringan saya ke warkop di jam tayangnya Anak Jalanan, maka kepikiranlah film Super Didi ini gak jauh-jauh dari drama keluarga broken home Ibu Kota yang akhirnya pisah lalu anak-anaknya hidup ngikut ke si Ayah.

Dimana hal barusan sangat jauh dari standarisasi personal saya akan kualitas film drama keluarga. Bagi saya, di otak saya, ketika membaca genre film ataupun sinetron tentang drama keluarga, maka yang muncul di benak saya adalah Keluarga Cemara yang mengharu biru atau Mr. Popper’s Penguins yang kocak bikin ngakak. Itu praduga saya sebelum sabtu sore kemaren. Praduga yang masih ada kemaren pagi ketika saya buka email dan menemukan undangan untuk menghadiri gala premier Super Didi sorenya.

Super Didi, Katanyasih Film Keluarga

Di beberapa publikasinya ngomong gitu. Film ini ada untuk mengisi ruang kosong film Indonesia yang bertemakan drama keluarga. Hal tersebut kembali ditegaskan lagi sama Om Rey, produser Super Didi yang merangkap MC waktu premier tadi. Dan saya tidak merasa dibohongi. Film ini asyik untuk tontonan sekeluarga, meskipun saya nontonya tidak sama keluarga.

Meskipun tagline-nya “Karena jadi Ayah itu, seru!”, duo mba-mba sutradara; Hadrah Daeng Ratu dan Adis Kayl Yurahmah membuat film Super Didi sangat relevan untuk ditonton oleh semua anggota keluarga. Anak, Ayah, Ibu, Kakek, Nenek, bahkan pembantu rumah tangga pun akan menemukan sesuatu inmateril untuk dibawa pulang sehabis nonton.

Kata Ibu, urusan saya itu nyuci pakaian, belanja, masak, nyuci piring dan bersih-bersih. Urusan anak itu urusan orang tua, Pak. ~Mba Ami, pembantu rumah tangga yang ngeselin

Bahkan bagi remaja-remaja tanggung dan pemuda-pemudi yang sedang berjuang di fase Quarter-Life Crisis nya pun tidak akan kecewa dan menyesal setelah menonton film ini. Kalaupun tidak menangkap pesan berfaedah dari film ini, paling tidak ada rasa terhibur setelahnya.

Hap Yap, 2/3 film ini bikin ngakak. Gak salah sih, soalnya di beberapa publikasinya memang ada juga disebutkan kalo film Super Didi ini film drama komedi keluarga. Dan sekali lagi, itu bener, gak bohong. Bagi saya, komedinya pas, gak ada adegan atopun dialog yang dipaksakan lucu seperti yang terjadi pada sequel pertama sebuah film komedi Indonesia yang castnya kebanyakan para pelawak berdiri, yang katanya sering berkomedi cerdas.

Selain sisi cerita yang baik, Super Didi juga hadir dengan para pemain yang tidak tanggung-tanggung. Di film ini mba-mba sekalian mungkin akan menemukan role model papah muda Indonesia pada diri Arka yang diperankan Vino G. Bastian. Sama seperti ketika mas-mas sekalian menemukan standarisasi nasional paket komplit seorang siswi SMA pada karakter Cinta yang diperankan Dian Sastro di film AADC.

Kemudian ada Mathias Muchus yang berperan sebagai Opa, berpasangan dengan Ira Maya Sopha yang memerankan karakter Mayang alias Oma Sayang. Dan pastinya, jangan lupakan duo bocah bersaudara di film dan dunia nyata, Anjani dan Aviela. The last but not the least, bundanya anak-anak yang diperankan oleh Karina Nadila serta pemeran pendukung yang diisi oleh deretan penyiar radio ibu kota; sebut saja Bayu Oktara, Mike Lucock, Ivy Batuta, Joe P Project dll.

Oh iya cuman tadi sehabis nonton saya sempat dibuat mikir buat punya anak sama satu adegan yang kayaknya kok pernah liat ya. Di film mana gitu.

Akhirnya jawabannya saya temukan waktu berkereta ke Bogor, ada adegan pentas di sekolahan anak-anaknya Arka yang mirip sama salah satu adegan di film Surga Yang Tak Dirindukan. :))

Terlepas dari hal barusan, yang gak serius-serius amat. Film ini tetap saya rekomendasikan sebagai salah satu film Indonesia yang must to watch bersama keluarga dan mungkin juga calon keluarga. Super Didi rencananya rilis di bioskop seluruh Indonesia tanggal 21 April nanti, bertepatan dengan Hari Kartini.

Pro Tips: Jangan buru-buru pulang, closing video sama lagunya asik.

Hai, would be nice if you leave a reply. :D