pendakian gunung pangrango

Summit Attack Gunung Pangrango [3/3]

Lanjutin lagi, semoga ini bisa menjadi akhir cerita pendakian Gunung Pangrango kemaren. Seperti cerita kemarin, katanya kami berencana mulai nanjak ke puncak Pangrango itu harusnya sekitar pukul tiga dinihari. Namun apalah daya, namanya juga baru rencana, tabiat-tabiat humanisme kami yang dengan adem ayemnya mengubah pelaksanaannya jauh dari rencana awal. 

Summit Attack Gunung Pangrango

Sebenarnya pukul tigaan sudah pada bangun, cuma ya gitu, masih seneng rebahan dalem sleeping bag. Jadinya, kami baru bisa meninggalkan tenda menuju Puncak Pangrango sekitar pukul lima subuh, setelah sedikit ngopi dan nge-mie. Tentunya dengan mencoba ikhlas melewatkan momen menikmati merahnya langit kala fajar dari ketinggian 3.019 mdpl. Oh iya, kami hanya membawa satu keril ke puncak, berisi makanan dan alat masak serta air secukupnya.

Summit Attack Gunung Pangrango

Untuk mencapai puncak Pangrango, kita dapat memulai perjalanan dari jalur berbatu di sudut kiri atas pos Kandang Badak. Berjalan sekitar 10 menit,  kita akan sampai pada persimpangan, dengan plang yang cukup jelas menunjukan arah kiri (lurus) mengarah ke Puncak Gede, sementara ke kanan adalah jalur menuju Puncak Pangrango. Kami kan maunya ke Pangrango, jadi ngambil jalan yang kanan. Jalurnya landai bahkan cenderung menurun, kriteria jalur yang memutar nih. Tidak beberapa lama, dengan pencahayaan seadanya, kami menyusul dan akhirnya mengekor rombongan siswa siswi Pecinta Alam dari SMA di Subang (kalo gak salah ya) yang pada saat itu pencahayaan mereka cukup memadai dibandingkan kami. Sekitar 15 menit meninggalkan persimpangan, track-nya mulai galak. Selain mulai nanjak dan menyempit, disepanjang track juga banyak terdapat rintangan berupa batang pohon yang tumbang entah karena apa. Rintangan-rintangan alami ini sempat beberapa kali membuat rombongan kami ini berhenti sejenak untuk ngantri menunggu siswa-siswi SMA tadi untuk lewat. Setelah berjalan sekitar satu jam, rombongan kami terhenti karena rombongan depan berhenti ngaso sekaligus menitipkan bawaan mereka ke pohon sekitar track. Denger-denger sih mereka masih akan lanjut ke Gede, jadi lumayan bakalan menghemat tenaga kalau mereka ke Pangrango tanpa harus membawa keril yang cukup berat, apalagi yang putri (gak bermaksud men-superiorkan gender tertentu loh).

Karena cukup lama bongkar muatannya, akhirnya adik-adik (eaaaa) SMA tadi mempersilahkan kami jalan duluan saja. Dari sini sinar matahari pagi mulai terlihat diantara sela-sela lebatnya dedaunan, rasanya masih nyesek gak bisa nge-sunrise di puncak Pangrango.

Mari lupakan sunrise-nya, mari kita lanjutkan ceritanya.

Semakin berjalan rasanya jalur pendakiannya makin ramai bercabang-cabang dan semakin menyempit. Ada yang zig-zag tapi halang rintangnya ramai, ada pula jalur yang nembak lurus tapi bakalan sangan menguras tenaga serta jalurnya berupa selokan sempit dan cukup licin untuk dilalui. Hampir dua jam setelah meninggalkan rombongan PA-SMA tadi, kami sampai pada area yang cukup datar dan berhadapan langsung ke Puncak Gede, sepertinya area tersebut sering dijadikan tempat nge-camp.

Summit Attack Gunung Pangrango

Dari sini kami sudah tersusul sama beberapa kawan-kawan (biar berasa muda) siswi PA-SMA tadi, benar-benar wanita strong. Sekitar 30 menit berjalan, kami harus berhenti lagi, Fachri tiba-tiba pengen ninggalin penanda daerah kekuasaan di semak-semak. Sekitar 2o menitan saya, Iif dan Didi menunggu, sementara Pahmi telah jalan terlebih dahulu. Menjelang pukul 10 siang, kami semua akhirnya sampai di Puncak Pangrango — tepat ketika teman-teman dari Unida memulai lagu Gugur Bunga entah untuk mengenang siapa, tentu saja saya sebagai penutup rombongannya. Dititik 3.019 mdpl ini areanya tidak begitu luas, mungkin ±25 m². Di puncak ini hanya terdapat tembok serta triangulasi berupa plang dan juga sisa-sisa banguna posko.

Kami tidak terlalu lama di puncak, kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Lembah Mandalawangi, lembah yang dipopulerkan (semacam lagu lah ya) oleh Gie, seorang aktivis gerakan mahasiswa angkatan ’66.

Summit Attack Gunung Pangrango

Perjalanan dari puncak ke Mandalawangi hanya sekitar 10 menitan. Untuk tampilannya, lembah yang juga dikenal sebagai Lembah Kasih ini berupa padang Edelweiss yang luasnya kira-kira dua kali luas lapangan bola standar IPL. Tapi sayang, kami belum bisa menikmati keindahan bunga Edelweiss, belum musimnya mekar. Di lembah ini juga terdapat sumber air buat masak, sekaligus buat nge-refill botol yang habis selama perjalanan dari Kandang Badak.

Setelah ngisi perut di Mandalawangi, sekitar pukul 11an kami beranjak kembali ke puncak untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan turun ke Kandang Badak.

Summit Attack Gunung Pangrango

Sekitar pukul satu siang, kami sampai kembali di Kandang Badak. Setelah berberes-beres ria, kami melanjutkan perjalanan turun kembali ke Cibodas melalui jalur yang sama ketika kami nanjak. Sampai di Cibodas sekitar pukul lima sore. Setelah melapor ke-pos Jagawana dan bersih-bersih seadanya, kami meninggalkan Cibodas menuju Bogor. Dan Alhamdulillah, sekitar pukul sembilan malam kami telah berada di Bogor, di kosan masing-masing bersama lelah dan sisa-sisa tanah TNGGP yang masih melekat di celana maupun sepatu sebagai oleh-oleh pemberian dari jalur pendakian gunung Pangrango.

——————–

Foto by: Fachri

Hai, would be nice if you leave a reply. :D