summit attack gunung gede

Pendakian Gunung Gede, Summit Attack

Semoga ini menjadi menjadi bagian terakhir dari seri Pendakian Gunung Gede.

27 Desember 2012
Sekitar pukul dua dini hari, saya dan kalo gak salah Upay juga sudah bangun dari tidurnya, tapi cuma saya yang benar-benar berani buat ninggalin kantong tidur. Posisi tidur yang berada paling dalam membuat saya agak merangkak hati-hati ketika keluar tenda. Diluar masih gelap dan udaranya khas pegunungan, dingin ohhh dingin. 

Setelah merapikan jaket menguatkan tekad, saya langsung menuju ke kali kecil buat ngambil air dan nyuci-nyuci beberapa alat masak serta ngambil air wudhu. Diseberang kali, sudah ada beberapa tenda yang agak berisik, sepertinya mereka juga akan segera ke puncak.

Summit Attack Gunung Gede

Sekitar pukul tiga dini hari, barulah semua benar-benar bangun dan bangkit dari tidur, ngopi-ngopi untuk menghangatkan badan sambil menyiapkan beberapa logistik untuk summit attack.

Barulah pada pukul setengah empat subuh kami memulai perjalan atau lebih tepatnya memulai mencari-cari jalan menuju puncak, bersama teman-teman dari UI sekitar lima orang kami mencoba-coba setiap jalur yang kira-kira bisa mengantarkan kami menuju puncak. Tiga kali mencoba, tiga kali pula kami kehilangan arah, ketiga jalur yang kami ikuti semuanya tidak berlanjut. Hingga akhirnya diputuskan untuk menggunakan jalur buatan sendiri, berhubung pencahayaan serta alat navigasi yang kami punya cukup memadai; satu buah kompas serta sebuah smartphone Android canggih punya Julian :D.

Mengambil garis lurus menuju puncak, kami mendaki dengan menembus semak belukar dengan tetap memperhatikan arah jarum kompas. Kalo gak salah, kata temen ini namanya teknik pendakian ala Babi, jalannya lurus-lurus kayak babi, gak peduli jalurnya ada penghalang apa gak, yang penting bisa sampai ke tujuan.

Terus berjalan sambil menjaga jarak antar rombongan agar tetap berdekatan serta beberapakali istrahat, akhirnya pukul setengah enam pagi lewat sedikit kami mencapai bibir kawah a.k.a puncak, meskipun melenceng beberapa puluh meter dari titik tertinggi gunung Gede.

summit attack gunung gede

akhirnya keluar hutan

Keluar dari hutan ini nih, kami diteriakin sama pendaki yang sudah lebih dulu sampai, ngasih tau kalo sebenar-benarnya puncak ada di mana suara si dia berasal. Berjalan di bibir kawah ada sensasinya sendiri, apalagi sambil mikirin hal-hal yang gak-gak, semisal seandainya tiba-tiba aja longsor nih kawah etc. Ditambah keindahan kabut kawah Gede serta keangkuhan puncak Pangrango yang ada di seberang, nikmat tuhanmu yang mana lagi kah yang engkau dustakan??.

subuhan setelah summit attack gunung gede

subuhan di puncak

Menjelang pukul delapan pagi, puncak Gede mulai ramai oleh para pendaki. Karena kedinginan, Eki dan Julian turun duluan menuju tenda. Upay, Ozi dan saya masih ingin sedikit berlam-lama di puncak, minum kopi ngemil nugget sambil menikmati menebalnya kabut kawah Gede.

ngopi di puncak pangrango

tukang kopi belum naik haji. *bukanPostBersponsor

memasak di puncak gunung gede

udah jago nge goreng nugget, bulu-bulunya seksi pula. :D

Sekitar pukul sembilan, kami bertiga memutuskan untuk turun menyusul Julian dan Eki ke Surken buat beres-beres tenda lalu pulang. Nah, waktu turun dari puncak menuju Surken ini kami tidak menggunakan jalur babi buatan kami pas naik tadi, tapi menggunakan jalur resmi yang sudah dibangun. Kenapa saya mengatakan sudah dibangun? karena jalurnya sudah cukup rapi, malah sangat rapi untuk ukuran jalur pendakian.

jalur summit attack gunung gede

jalurnya sudah rapi, yang jalan juga sudah ganteng.

Setelah meyakinkan diri bahwa kondisi memang tidak memungkinkan buat melanjutkan perjalanan ke puncak selanjutnya (Pangrango), akhirnya diputuskan untuk menghabiskan logistik tersisa sambil ngebongkar tenda dan packing buat pulang. Semoga dilain waktu kami bisa menyapa Pangrango langsung di puncaknya.

tim summit attack gunung gede

the team : ozy julian, me, eki, upay

Pukul sebelas siang kami meninggalkan Surken, dan dua jam selanjutnya kami berlima sudah berada kembali di pos Registrasi pendakian. Setelah menyerahkan sampah dan konfirmasi bahwa kami telah kembali dengan lengkap kepada petugas TNGGP, kami langsung bersih-bersih di masjid terdekat lalu sholat dan sejenak ngaso. Sekitar pukul tiga sore kami meninggalkan pos Gunung Putri menuju Bogor dengan terlebihdahulu harus berjibaku membujuk motor pinjaman dari Aziz biar mau nyala, bahkan sempat singgah dulu ke bengkel. Jadinya, kami benar-benar meninggalkan daerah Cipanas setelah sholat Magrib.

Sekitar pukul delapan malam, saya yang boncengan dengan Julian sampai di daerah Mawar, Bogor. Dan kabar burukny adalah motor yang baru dibengkelin ternyata mogok-mogok lagi setelah melewati tanjakan Puncak. Bahkan benar-benar dalam keadaan koma disekitar Elos, jadinya saya dan Julian harus kembali menjemput si motor yang mati suri, jadilah malam itu kami harus menderek motor dengan motor, dan talinya menggunakan dua gulung tali rafiah harga seribuan. Barulah besoknya pendakian kami benar-benar selesai, ketika motor pinjaman itu sudah keluar bengkel dan bisa nyala lagi. This is a wonderful trip, we have a story. Puncak gunung yang lain menunggu untuk disapa!!

  • foto by Ozi

9 Comments on "Pendakian Gunung Gede, Summit Attack"

Hai, would be nice if you leave a reply. :D