Saya Orang Bugis, Bukan Bugiz

Saya punya teman namanya Aziz, Yuzar, Zahir dan beberapa kawan lagi yang nama panggilannya mengandung huruf “Z”. Ada yang unik dengan dengan huruf terakhir dari susunan abjad latin ini yang baru saya temukan setelah saya berada di Bogor. Yah benar, sejak saya masuk kampus untuk pertamakalinya dgn status mahasiswa (KEREEEENNN kan….!!!) di IPB, dimana semua mahasiswa baru diwajibkan nongkrong dari pagi sampai pagi lagi diasrama mahasiswa selama satu tahun. Nah, disini nih saya bertemu banyak mahluk dari dunia lain yang datang dengan logat dan bahasa mereka yang aneh-eneh menurut saya, misalnya saja logat orang Batak yang membuat kita serasa berada di kamp pelatihan marinir. Atau orang Sunda yang aduuuuhhh, mendayu-dayu gimana gitu. Dan jangan lupakan orang kalimantan yang melayunya minta ampun kalo lagi ngomong pake bahasa daerahnya.
Okeh, balik ke SD, mari belajar tentang abjad, tentunya kali ini kita khusus akan membahas huruf “Z”. Diataskan sudah dijelaskan kalau saya harus satahun seasrama dengan berbagai suku dan bahasa. Disaat menjadi insan asrama inilah saya menemukan anomali penyebutan huruh “Z”. Ini saya sadari ketika teman-teman saya menyebut nama panggilan teman sekamar (sekamar empat orang) saya yang bernama Aziz, tapi yang saya dengar bukannya “A Z I Z” melainkan “A J I Z”. Sejak kapan namanya Aziz jadi Ajiz???
Masalah nama aja kok di permasalahkan, mungkin itu cuma panggilan pemberian teman-teman selorong. Tapi, kok teman saya yang satu lagi dan juga bernama Aziz kok di panggilnya juga dengan sebutan Ajiz??? Konspirasi apa ini….
Dan memang ternyata ada beberapa suku di Indonesia yang kurang mampu menyebut huruf “Z”, bukannya nyebut “Zet”, mereka malah mengejanya dengan “Jet”. Unik kan….
Masalah Zet dan Jet kita lupakan. Mari masuk ke frame dimana terjadi perselisihan antara Zet (Z) dan Es (S). Dan pelaku utama kali ini adalah saya sendiri. Tetap dengan korbannya yaitu Perorbaz (Persatuan Orang-orang Bernama Aziz). Apa masalahnya?
Giniloh, setiap saya manggil Aziz, teman-teman saya pada ngakak dan bilang ke saya: “hei, Aziz, bukan Asis!”
Artinya apa? Artinya saya meniatkan dan telah mengikhtiarkan untuk memanggil Aziz tapi ternyata yang teman-teman dengar keluar dari mulut saya itu adlah panggilan seseorang yang bernama “A-S-I-S”. Berbagi komentarpun menguak kemedia massa (maklum, saya kan public figure yang selalu jadi buah bibir dikalangan wartawan. ehehee). Misalnya saja isu yang mengatakan kalau saya ini gak bisa nyebut “Z”. Menurut mereka, setiap huruf “Zet” dalam kata yang saya ucapkan malah akan terganti dengan huruf “eS”. Misalnya saya (meniatkan) memanggil Aziz, maka yang akan terdengar adalah kata Asis. Yang bermasalah lidah saya atau telinga mereka?
Okeh, karena Saya Cuma satu dan mereka itu banyak, kalau bukan banyak saya tidak akan menyebut mereka “mereka”. Yaph, mereka adalah dia, dia, dia, dan dia dkk, atau mungkin kamu juga termasuk. Eh, ngelanturkan, suara terbanyaknya ada pada mereka, jadi Saya yang mengalah, okeh, lidah saya yang bermasalah. Lidah saya tidak bisa mengucap Zet (Z) dengan benar, malah huruf Z saya eja menjadi eS (S).
Jawaban mengapa Z dapat terolah menjadi S ketika keluar dari mult Saya adalah karena sayakan lahirnya di Desa Kassi Buleng, Kec Sinjai Borong, Kab Sinjai, Prov Sulawesi Selatan. Saya tidak lahir di Desa Kazzi Buleng, Kec Zinjai Borong, Kab Zinjai, Prov Zulawezi Zelatan. Dan karena Saya bukan Zaya.
Ohyah, maaf tadi di awal saya janji Cuma membahas huruf “ZZZZZZZZZZZZZZZZZZZ” tapi ternyata keadaan memaksa kenyataan untuk membuat saya juga harus membahas “SSSSSSSSSSSSSSS” dan “JJJJJJJJJJJJJJJJJ”.
Dan satu lagi, asli saya orang Bugis, bukan Bugiz.
Salam satu cinta, satu bumi, satu jari, Ibu jari maksud saya….

4 Comments on "Saya Orang Bugis, Bukan Bugiz"

Hai, would be nice if you leave a reply. :D