Pro Kontra SOPA dan PIPA: Dari Hollywod Hingga Nusantara

Imagine a world without free knowledge. (Wikipedia’s Blackout Tagline for against SOPA/PIPA)

Tulisan barusan merupakan tagline yang ditampilkan oleh halaman blackout Wikipedia dalam rangka kampanye penolakan terhadap rancangan undang-undang tentang hak cipta yang sekarang menjadi pembahasan serius di senat Amerika Serikat. Bukan hanya di negeri paman Sam, bahkan seluruh dunia khususnya para komunitas online juga ikut meributkan RUU yang dikenal dengan sebutan SOPA (Stop Online Piracy Act) dan PIPA (Protect IP Act). Mengapa RUU yang notabene merupakan aturan yang diajukan, disahkan dan akan diterapkan di Amerika Serikat ini menjadi perbincangan serius seluruh penggiat dunia maya termasuk di Indonesia? 

Asal usul SOPA dan PIPA

SOPA dan PIPA merupakan draft RUU yang akan mengatur tentang hak atas kekayaan intelektual, kalau secara sederhana SOPA dan PIPA merupakan (rancangan) undang-undang untuk memerangi pelanggaran hak cipta dan plagiarisme terhadap konten kreatif (filem, musik, dll) serta perlawanan terhadap pemalsuan obat-obatan. Namun yang menjadi pro-kontra adalah poin pertama tentang konten kreatif.

SOPA dan PIPA merupakan bayi dari kerisauan dan ketidakmampuan para kapitalis Hollywod dalam membendung pelanggaran hak cipta secara konvensional. Para konglomerat Hollywod tidak lagi bisa mengandalkan undang-undang terdahulu yang dianggap sudah tidak mampu menjangkau pelanggaran hak cipta di zaman serba online dengan kecepatan internet yang semakin tinggi.

Draft SOPA dan PIPA dibuat untuk menutupi kelemahan DMCA (Digital Millennium Copyright Act) yang disahkan pada tahun 1998, dimana DMCA lebih fokus kepada kewajiban untuk menghapus konten spesifik yang melanggar hak cipta bukan seluruh website. Sementara SOPA dan PIPA diciptakan untuk bertindak lebih jauh lagi dan dampaknya juga lebih global, bahkan bisa mengakibatkan situs tertentu harus dihapuskan secara permanen dari dunia maya walau hanya sekedar menumpang server dan atau domain melalui penyedia layanan di AS.

Siapa saja pendukung SOPA dan PIPA?

Untuk pertanyaan ini, beberapa sudah terjawab pada penjelasan sebelumnya, Hollywod menjadi mas’ul para organisasi serta perusahaan-perusahaan yang berkecimpung dalam industri kreatif khususnya industri perfileman dan musik serta industri obat-obatan dan kecantikan. Sebut saja Alliance for Safe Online Pharmacies (ASOP), American Society of Composers, Authors and Publishers (ASCAP), Association of Talent Agents (ATA), Disney Publishing Worldwide Inc., Sony Music Entertainment, L’Oreal dan masih banyak lagi. Alasan mereka mendukung draft RUU ini saya rasa anak SD juga sudah mengerti dari beberapa penjelasan sebelumnya.

Pro Kontra SOPA dan PIPA

Seperti halnya UU-ITE di Indonesia ketika masih berupa rancangan, selain mendapat dukungan juga mendapat penolakan yang umumnya berasal dari komunitas pengguna internet, demikian juga dengan pro kontra SOPA dan PIPA. Penolakan terang-terangan dan sangat kuat berasal dari pengelola dan perusahaan penyedia layanan berbagi konten yang sebagian besar merupakan warga Silicon Valley. Sebut saja perusahaan penguasa dunia maya – Google, Yahoo, LeBay, Facebook, LinkedIn, Mozilla, OpenDNS, PayPal, Scribd, Zynga, WordPress, dll.

Selain beberapa yang menolak dari awal, ada juga yang awalnya mendukung namun kemudian ikut bergabung dalam barisan anti SOPA dan PIPA, mereka adalah pengembang game serta konsol ternama yaitu Electronic Arts, Sony electronic serta Nintendo. Kemudian ada juga penjual domain populer dikalangan bloger, GoDaddy. Serta tidak ketinggalan dan paling menghebohkan dan pastinya membingungkan adalah bergabungnya Business Software Alliance yang di dalamnya terdapat perusahaan besar dan menurut saya beberapa diantaranya adalah korban pembajakan terparah seperti Apple, Microsoft, Adobe Systems, Corel, AVG, McAfee dll.

Salah satu bentuk protes mereka adalah menutup situs yang mereka kelolah sampai batas waktu tertentu, seperti yang dilakukan oleh Wikipedia. Saya tidak bisa membayangkan jika Google (G+, Gmail, Blogger dan Youtube), Bing, Yahoo, dan MSN juga mengambil jalan yang sama seperti yang dilakukan Wikipedia. Lalu ada WordPress, penyedia layanan blog gratisan yang menambahkan tab untuk menampilkan blog dalam mode blackout.

Para penentang pengesahaan SOPA dan PIPA ini beralasan bahwa RUU tersebut dapat mematikan bisnis mereka dan yang paling penting RUU tersebut dapat mengakibatkan “pembunuhan” terhadap kebebasan berekspresi. Hal ini terkait dengan salah satu poin dimana setiap situs yang dianggap melanggar aturan dalam SOPA dan PIPA terkait hak cipta akan langsung diblokir secara sepihak oleh penyelenggara jasa internet di Amerika Serikat. Namun karena dinilai terlalu keras maka mekanisme tersebut digantikan dengan penghentian bisnis dari penyedia jasa pembayaran, iklan, dan mesin pencari dari situs yang melanggar yang sebagian besar penyedia layanan tersebut berada diwilayah hukum AS.

Kenapa (bloger) Indonesia ikutan ramai?Meskipun prinsipnya sama, ada perbedaaan antara SOPA dan PIPA dengan UUITE di Indonesia. Pada UUITE yang menjadi kontroversi lebih kepada pembatasan konten yang mengandung unsur asusila seperti yang tertulis pada Bab 7 tentang Perbuatan yang dilarang dalam pasal 27 Ayat 1: “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.”, sementara SOPA dan PIPA lebih mengarah kepada pemberantasan dan penghapusan konten yang melanggar ke-hak ciptaan.

Misalnya, jika diketahui ada sebuah situs dari Indonesia yang server serta perusahaan penyedia jasa domainnya berada di AS dianggap melanggar, maka Google sebagai mesin pencari tidak diperkenankan untuk menampilkan situs itu di hasil pencarian. Selain itu, jika situs yang dianggap melanggar tadi memanfaatkan jasa PayPal untuk pembayaran dan AdSense untuk iklan, maka layanan itu juga harus dihentikan.

Contoh lain, misalnya saya ingin menjadi seorang penyanyi seperti Justin Bieber dengan cara memanfaatkan Youtube. Maka saya dengan senang hati akan menyanyikan lagu Greenday di depan kamera dengan harapan akan ada seorang produser melihat bakat saya, sayapun mengunggahnya ke youtube tanpa seizin dari sang empunya lagu, karena saya tidak punya nomor kontak si Billie Joe, di Facebook juga kami belum berteman. Maka menurut SOPA dan PIPA, saya telah melanggar UU Hak Cipta, kemudian Youtube yang menampijkan video rekaman saya akan dituntut, karena menampilkan konten pencurian hak cipta orang lain dalam hal ini Greenday. Sebagai konsekuensinya, pencarian video tidak akan ditampilkan di hasil search engine, dan paling parahnya youtube di tutup secara permanen. Saya kira anda tidak akan rela youtube ditutup cuma karena ambisi saya untuk terkenal seperti Justin Barbar, iya kan?.

Dan terakhir, apakah anda pendukung atau penolak SOPA dan PIPA?

Referensi:
Diskusi di Kopdar BloggerIPB, 18 Januari 2012
http://www.cdt.org/report/list-organizations-and-individuals-opposing-sopa
http://www.digitaltrends.com/opinion/the-439-organizations-sopa-opponents-should-worry-about/
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK

6 Comments on "Pro Kontra SOPA dan PIPA: Dari Hollywod Hingga Nusantara"

Hai, would be nice if you leave a reply. :D