Perjalanan ke Kampung Baduy

Seharusnya ini saya posting sekitar dua hari yang lalu, namun karena ada masalah dibagian persendian khususnya dibagian lengan setelah melakukan push up sebanyak 100 kali secara beruntun di bawah cahaya bulan. Hahahaa… pegel euy…

Beberapa, tepatnya sekitar tiga hari yang lalu saya sedang tidak ada di Bogor, saya lagi ada di daerah Pandeglang, Banten. Kesananya sekitar hari Kamis, tanggal 22 Desember 2011. Berangkat dari terminal Bogor sebagai salah satu dari rombongan KAMMI Daerah Bogor yang selain saya masih ada empat orang teman dari IPB, dua orang dari Akademi Kimia Analisis, dan satu orang dari Univ. Ibnu Khaldun Bogor. Tujuan kami kesana tidak lebih dan bukan untuk mengikuti sebuah acara pelatihan yang diadakan oleh KAMMI Daerah Banten. Pelatihan yang berlangsung di Badiklat Provinsi Banten ini berlangsung selama dua malam lalu di lanjutkan dengan rangkaian acara field trip ke perkampungan suku Baduy di dua hari terakhir (24 dan 25 Desember).

perjalanan ke kampung baduy

Dengan peserta dengan latar belakang almamater yang berbeda, memberi pengalaman dan kenalan baru di sana.Dari semua rangkaian acara, yang paling berkesan pastilah acara terakhir. Setelah penutupan rangkaian acara di Badiklat, setelah dzhuhur, rombongan yang berjumlah lebih dari 60 personel baik peserta dan panitia berangkat dengan menggunakan dua buah bus menuju lokasi kampung Baduy. Sekitar kurang lebih dua jam perjalanan untuk sampai ke lokasi terluar kampung Baduy. Setelah itu masih harus dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar dua jam, itupun hanya sampai ke perkampungan suku Baduy luar. Sebelumnya perlu diketahui bahwa suku Baduy terbagi atas dua, yaitu Baduy luar dan Baduy dalam, dan tujuan kali ini hanya sampai ke Baduy luar.Sebelum memulai perjalanan dengan jalan kaki, ketua rombongan terlebih dahulu meminta izin kepada lurah/pemangku adat suku Baduy. Setelah itu barulah para guide memperbolehkan kita jalan, namun sebelumnya dijelaskan bahwa ada beberapa hal yang harus diperhatikan selama perjalanan maupun ketika sampai di perkampungan Baduy luar, yaitu:

  • Tidak diperbolehkan mematahkan apalagi mencabut tanaman,
  • tidak diperbolehkan meninggalkan sampah,
  • tidak boleh ribut/gaduh apalagi sampai mengucapkan kata-kata yang tidak pantas,
  • tidak boleh menampilkan alat-alat elektronik secara berlebihan, misalnya membunyikan musik dengan keras.
Dari pemberhentian/terminal bus hingga mencapai kampung suku Baduy Luar, berjarak sekitar tiga kilometer dengan medan yang menanjak, menurun, licin dan harus melewati beberapa sungai kecil. dan serunya, kondisi jalanan seperti itu harus sepertiganya harus kami lalui dengan kondisi pencahayaan yang sangat minim, dari semua rombongan gak sampai setengahnya yang bawa senter, bahkan saya sendiri hanya menggunakan pencahayaan dari HP yang fungsi utamanya agak bergeser karena disana tidak ada sinyal sama sekali.
Setelah berjalan dalam keadaan gelap, sekitar pukul tujuh malam, semua rombongan sampai di tempat penginapan masing-masing. Penginapan disini tidak seperti apa yang kita bayangkan ketika mendengar kata “penginapan”, melainkan beberapa rumah warga dengan keadaan seadanya, bahkan ada diantara kami para peserta putra yang harus tiduran di teras depan, bersentuhan langsung dengan gelapnya malam di Kampung Baduy luar. Untuk peserta putrinya saya sendiri kurang tahu, karena tempat penginapan mereka dipisahkan cukup jauh ke belakang. Jadi, ceritanya kami menempati dua kompleks penginapan. Malam itu, sebelum tiduran, kami makan malam dengan lauk berupa mie goreng dan telur.
Esoknya, dengan agak menggigil kami bergantian berjalan ke arah sungai untuk mengambil air udhu. Untungnya penginapan kami tepat berada di tepi sungai, jaraknya paling sekitar 20an meter. Sepertinya diantara para peserta putra tidak ada yang mandi, hehee. Selanjutnya, setelah sarapan acara dilanjtutkan dengan keliling perkampungan sambil menyaksikan langsung kehidupan sosila orang Baduy, termasuk menyaksikan langsung para perempuan suku Baduy menenun benang menjadi kain. Setelah keling kampung dan foto-fot0, acara dilanjutkan dengan diskusi dengan penduduk dan tetuah adat Baduy Luar, tentu saja dengan perantara seorang transleter. Bukan hanya bertanya tentang kehidupan keseharian mereka, namun diskusi juga sempat menyinggung masalah idealisme dan kepercayaan orang Baduy. Termasuk bagaimana mereka merepresentasikan agama mereka sebagai agama Islam, dalam hal ini lebih banyak kita kenal sebagai Islam Wiwitan.
Ada beberapa topik yang cukup membuat peserta antusias, salah satunya adalah bagaimana suku Baduy mampu mempertahankan struktur sosial serta nilai-nilai budaya setempat dari gempuran aspek-aspek budaya modern.
Setelah diskusi cukup lama dan seru, akhirnya sekitar pukul 11 siang, rombongan kami meninggalkan kampung Baduy luar. Terbersit harapan, semoga suatu saat saya bisa kembali melakukan perjalanan ke kampung Baduy hingga ke ke kampung Dalam.

5 Comments on "Perjalanan ke Kampung Baduy"

Hai, would be nice if you leave a reply. :D

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.