Bahagia itu Sederhana, Sesederhana Pentas Seni di Tepi Sawah

Sudah agak lama rasanya tidak berkumpul dengan kawan-kawan pendamping dan siswa-siswa (baca: anak-anak) di LPK Tepi Sawah. Maklum, setelah terakhir kali ikutan dalam dikusi penyusunan struktur pendamping baru yang secara formal didominasi oleh anak-anak Ilkom 47 dan 48, selanjutnya waktu akhir pekan saya banyak berakhir di perpustakaan dan di kosan. Hingga akhirnya ada momen yang sepertinya cukup pas untuk kembali melihat wajah-wajah ceria ala anak desa. 

Momen itu adalah pentas seni yang diadakan LPK sebagai puncak dari beberapa rangkaian acara sebelumnya. Selain pementasan baca puisi, drama musikal, dan pembacaan cerita; Pensi kali ini juga dijadikan ajang penyerahan hadiah bagi para pemenang dari setiap mata lomba yang telah diadakan pekan-pekan sebelumnya. Meskipun disebut sebagai malam puncak, ya tetap saja nuansa kesederhanaan tetap terasa. Hal ini dapat kita lihat dari tempat acara yang sekedarnya, menjadikan teras ruang kelas LPK sebagai panggung dengan sedikit sentuhan dekorasi. Selain panggung, nuansa ala kadarnya juga terlihat dari tempat penonton yang pada dasarnya adalah halaman LPK yang kemudian dilapisi dengan tenda pramuka yang cukup lebar dan itu tanpa kursi, yuk mari kita lesehan!

pentas seni lpk tepi sawah

om dan tante-tante pendamping sedang menyulap teras menjadi panggung

Namun dengan semua kesederhanaan itu tidaklah mengurangi antusiasme para pendamping, siswa dan para orang tua siswa yang tidak lain adalah masyarakat sekitar LPK untuk ikut hadir. Terlihat dari area penonton yang sudah disiapkan tidak dapat menampung semuanya, sehingga ada beberapa orang tua siswa yang harus berdiri. Sementara dari pendamping sendiri cukup banyak yang hadir, bahkan dari yang sudah lulus dan bekerja pun masih sempat datang untuk kembali bermain dan tertawa bersama bocah-bocah “sepermainan” mereka sewaktu masih aktif di kampus. Lebih dari semua itu, tentu saja para anak-anak LPK lah yang paling bersinar malam tadi, dengan binar-binar kebanggan mereka memasuki gerbang LPK kemudian berebutan untuk mengisi form registrasi alias absen. Mungkin mereka berpikir, kapan lagi coba bisa tampil dan unjuk gigi di depan warga se kampung dan juga warga kampung tetangga.

pentas seni lpk tepi sawah

ini beneran unjuk gigi :)

lpk tepi sawah

out door lesehan

Acara yang dimulai sekitar pukul 18.30 ini dibuka dengan lantunan ayat suci Al-Quran yang dibacakan langsung oleh salah satu anak LPK yang mengikuti kelas komputer. Ayihhh… saat itu, malam minggu di Cikonjen dibuat dari semilir angin malam yang dibingkai dengan senyum polos anak-anak desa kemudian dibungkus dengan firman Ilahi. [What a wonderful moment]

lpk tepi sawah

Setelah pemacaan ayat suci Al-Quran, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Bu Dea selaku pengelolah LPK dan juga sepatah dua patah kata dari Pak RT. Setelah sambutan, maka dengan resmilah malam itu, acara itu, berada dalam kekuasaan para anak-anak LPK. Dengan dipandu oleh duo MC yang sedang menjadi perbincangan hangat dikalangan Ilkomerz,  acara dilanjutkan dengan berbagai penampilan dari anak-anak LPK. Ada yang membacakan puisi tentang hutan, ada yang membacakan cerita karangannya sendiri yang bertemakan lingkungan. Namun, bagi saya pribadi, yang cukup istimewa diawal acara adalah bagaimana empat orang anak-anak LPK tampil menyapa kita semua dengan menggunakan bahasa Inggris. Dari dulunya membaca saja masih terbata-bata, kini mereka dengan wajah berseri-seri penuh keyakinan menyapa kami; salah, bukan hanya kami, tapi juga menyapa dunia dengan bahasa yang mungkin dulunya mereka tidak pernah berfikir untuk menggunakannya.

lpk tepi sawah

nyatanya mata pak RT gak merah kok. kesalahan sepenuhnya ada pada fotografer.

lpk tepi sawah

Taufik lagi ngebacain puisi. :)

trust me, they’re talking in english.

Setelah satrawan-sastrawan cilik LPK tampil, acara dilanjutkan dengan penampilan [semacam] paduan suara dari anak-anak LPK dan juga dari anak-anak PAUD yang berada di sekitar kampung Cikonjen. Penampilan kedua kelompok paduan suara ini terlihat cukup kontras, anak-anak LPK yang tampil ramai dengan “Aku Seorang Kapiten”-nya beserta beberapa koreo ala kadarnya namun tetap bikin heboh, sementara anak-anak PAUD tampil dengan membawakan lagu “Kasih Ibu” yang cenderung mendayu-dayu.

lpk tepi sawah

Kapitennya seorang, temannya banyak. HORMAT GRAK!!

lpk tepi sawah

senandung cinta untuk wanita terhebat di dunia

Setelah diselingi dengan pemberian hadiah untuk lomba menggambar dan mewarnai tingkat TK, acara dilanjutkan dengan penampilan tim darama musikal LPK Tepi Sawah. Dengan properti seadanya, mereka dengan apik menampilkan cerita yang diadopsi dari dongeng Dua Belas Puteri yang Menari. Bercerita tentang suatu kerajaan dimana rajanya memiliki 12 orang putri dengan kecantikan yang luar biasa. Namun dibalik semua itu, ke-12 putri ini masih menyimpan kesedihan karena ibu mereka telah tiada. Karena itu, ke-12 puteri lebih banyak menghabiskan waktu didalam kamar. Hingga suatu hari mereka menemukan suatu portal yang membawa mereka ke suatu tempat yang indah, disana mereka menari dengan riang, loncat dari batu ke batu (tidak ada kodok dalam cerita ini) hingga sepatu mereka rusak. Nah, dibagian menari-nari ini yang mengundang banyak tawa para penonton. Lanjut lagi, kemudian muncul seorang pemuda yang berprofesi sebagai tukang sol sepatu yang disusul kemunculan seorang penyihir dan pembantunya. Si Penyihir kemudian […]. aih, cerita cukup disini aja ya, sudah lumayan nge-spoiler nih. Nanti saya sertain link videonya kalau sempat  di unggah sama kameramen di acara tadi.

lpk tepi sawah

penyerahan hadiah oleh perwakilan pemerintah Kelurahan Leuwingkolot.

lpk tepi sawah

keep smile, and king will die. :)

Pada akhirnya, si Penyihir mendapatkan balasannya, hancur lebur menjadi debu. Tapi, apakah semua itu dapat menyelamatkan sang raja?. Nah, spoiler lagi. cukup nantikan di bioskop-bioskopan terdekat di kediaman anda.

Setelah dramus, kalau tidak salah acara dilanjutkan kembali dengan penyerahan hadiah kepada pemenang lomba-lomba yang pesertanya sudah SD. dan SMP, [CMIIW]. Penyerahan hadiah diberikan oleh Bu Dea dan juga kak pak Oki. Oh yah, sedikit info, pak Oki ini bisa dikatakan sebagai salah satu kakak pendamping yang pertama kali mulai menghidupkan LPK bersama Bu Dea waktu masih menjabat sebagai ketua HIMALKOM tiga tahun lalu. Ditengah-tengah kesibukannya bekerja dan mencari jodoh di Jakarta, bersama bang Te’ (direct boss saya waktu di himpro) dan kak Mega (asisten dosen PS saya nih) mereka masih menyempatkan hadir menyaksikan kelanjutan dari apa yang pernah mereka mulai.

lpk tepi sawah

Bu Dea menyerahkan hadiah kepada si putri sulung

lpk tepi sawah

lagi-lagi kesalahan pd fotografer. sesungguhnya bang Te’ lebih lebar dr apa yang ketangkap kamera.

Setelah penyerahan hadiah, acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan dari trio Ilkom 46. Dengan membawakan dua lagu, Luksi dengan petikan-petikan gitarnya mengiringi suara Gita dan Rini malam tadi. Para penonton yang mulai tidak fokus kembali mengarahkan pandangan mereka ke panggung sambil sesekali ikut bernyanyi. Lebih heboh lagi ketika trio ini turun panggung, beberapa bocah terprovokasi sehingga terjadilah sebuah kor “LALALA YEYE YE” ala acara musik di TV.

lpk tepi sawah

lalala…. yeye yeh!!

Dan pada akhirnya, sekitar pukul 21.00 acara yang cukup meriah dibalik kesederhanaannya harus menemui akhir. Ditutup dengan penampilan pamungkas dari anak-anak LPK yang membawakan lagu “I Have a Dream” sambil memegang kembang api. Yok, semoga keterbatasan akan budaya belajar dan bersekolah di tanah kelahiran kalian tidak menghalangi kalian untuk bermimpi dan mewujudkannya.

lpk tepi sawah

i’ve a dream

***************** selanjutnya, biarkan gambar yang bercerita *****************

kakak MC lagi iseng nanya-nanya

Bu Dea mendampingi bu Guru PAUD waktu ngasih testimoni

heiii, look at to my camera!!

hai kakak-kakak!!

calon cover FB nih. :)

***************** ini ada sedikit bonus *****************

ini duo MC kita yang suaranya saling menghilangkan. :v :v

selain MC, mereka juga bisa jd sepaket gitaris dan stand mic. :D

**************************************************************

Dan sekali lagi, mari kita sama-sama berdiri dan bernyanyi….

[…] I have a dream, a fantasy
To help me through, reality
And my destination, makes it worth the while
Pushing through the darkness, still another mile
I believe in angels, something good in everything I see
I believe in angels, when I know the time is right for me
I’ll cross the stream, I have a dream […]

and… let’s make our dream come true!!

5 Comments on "Bahagia itu Sederhana, Sesederhana Pentas Seni di Tepi Sawah"

Hai, would be nice if you leave a reply. :D