hutan mati papandayan

[Cikuray-Papandayan] Pendakian Gunung Papandayan

Setelah kenalan (kecuali saya) dengan pendaki “independen” tadi, kami bergabung di tepi jurang. Menikmati rindangnya pepohonan dan semilir angin di ketinggian bersama tawa kepuasan. Melihat track record kami semua, gak nyangka dalam tiga hari kami bisa merasakan udara di dua puncak gunung yang berbeda. Ehhh… sebelum serius baca ini, mending baca postingan sebelumnya dah biar bisa nyambung. Sudah? Oke langsung ke inti cerita, semoga tulisan saya bisa menggambarkan secara real pendakian gunung papandayan kemaren. 

Hanya beberapa menit menikmati tepi jurang, kami sepakat mencari tempat yang lebih datar dan agak lapang untuk kami masak dan ngopi bareng. Masing-masing mengeluarkan logistik, ada mie instan, air, cemilan, kopi, beras dan spaghetti. Akhirnya yang terpilih melalui musyawarah untuk menjadi makan siang kali ini adalah spaghetti yang dibawa Janu. Sementara Wenty memasak mie Italia-nya, kami beberapa kali harus menjawab teriakan-teriakan pendaki lain yang juga bingung dengan letak puncak Papandayan.Bahkan tidak lama berselang, ada dua pendaki dari Jakarta yang bergabung bersama kami, dan pada akhirnya mereka menjadi korban “godaan” si Wenty, dengan ikhlas mereka membagi pisang dan balado kalengan kepada kami. Ternyata mereka berdua ini sedang mencari teman-temanya yang terpisah, dan yang saya bingung adalah rombongan terpisah yang mereka cari sekitar 10an org, yang nyari dua org, yang dicari 10an org, jadi siapa sebenarnya yang terpisah dari rombongan?. Btw, terimakasih buat pisang dan baladonya.

makan di puncak gunung papandayan

cita rasa italia di puncak papandayan

Pukul 13.00an, kami ber-11 beranjak meninggalkan puncak dan kembali menuju Pondok Salada untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju pos informasi. Perjalanan turun kembali mengharuskan kami melewati padang Edelweiss a.k.a Tegal Alun. Disini sini kami berhenti sejenak untuk berfoto-foto ria yang akhirnya iseng-iseng tercetuslah janji untuk foto bareng di Tegal Alun dengan gaun wisuda kelak setelah lulus, yang sepertinya hanya berlaku untuk angkatan 2009 (Saya, Suci, Ryan, Upay, Nurul, Wenty, dan Janu).

edelweiss gunung papandayan

foto sama edelweiss

Sekitar pukul dua siang, meskipun Roy yang jalan paling depan kami akhirnya sampai di Pondok Salada tanpa harus nyasar. Sepertinya Roi sudah belajar cara ngenalin jalur pulang yang baik setelah kejadian di Cikuray yang dianya nyasar sendiri (tidak perlu diceritakan). Sebelum melanjutkan perjalanan menuju pos informasi, kami istrahat sejenak sambil merapikan kembali beberapa bawaan yang kami titipkan ke pendaki dari Sukabumi yang nge-camp di Pondok Salada.

Sesuai kesepakatan, perjalanan Pondok Salada – Pos Informasi (Titik awal pendakian) kami akan menggunakan jalur yang melewati hutan Mati, yang juga merupakan jalur yang digunakan oleh Janu dkk saat berangkat. Perjalanan yang boleh dibilang sangat santai, apalagi pemadangannya emang keren jadi wajarlah kalo perjalanan turun kali ini banyak diselingi photo session.

pendakian gunung papandayan

hutan mati gunung papandayan

hutan mati papandayan

hutan mati bekas jalur wedus

hutan mati papandayan

mati karena alam lebih keren daripada gundul karena manusia

 

Hutan Mati ini merupakan bekas hutan Hidup (jangan protes) yang akhirnya mati karena debu panas letusan gunung Papandayan pada tahun 2002 lalu. Benar-benar keren pencipta kita brayyy… menciptakan keindahan dari kehancuran.

Setelah melewati hutan Mati, kami sampai di bibir tebing yang sangat cocok buat ngaso sambil menikmati view yang “wow”. Biarlah gambar yang menjelaskan apa arti dari “wow” yang saya maksud.

pemandangan gunung papandayan

wow!!![1]

pemandangan gunung papandayan

wow!!![2]

dananu hijau gunung papandayan

wow!!![3] danau hijau yang tak sempat di kunjungi, menikmati dari lensa kamera.

wow!!![4] sesi foto buat kalender suatu merek sendal jepit, tangguh di segala medan

 

sangat WOW!!! [rang ganteng turun gunung]

Setelah ngaso, kami lanjut lagi dengan sedikit improvisasi gaya berpindah tempatnya karena medannya terlalu curam dan pijakan buat kaki sangat tidak stabil, maka dengan senang hati kami turun dengan cara nyosor. (Jeans saya yang sobek sejak di Cikuray nambah sobeknya disini ni).

perosotan…. awas celana sobek!!

Setelah bertingkah layaknya bocah, akhirnya kami sampai di jalur datar tapi dijalur ini pula harus waspada dengan asap belerang (*pasangMasker) yang bisa menyembur dari mana saja tanpa kita duga. Hindari batuan yang agak retak dan mengeluarkan asap-asap kecil. Selain itu, watch your step, kiri-kanan jurang, kepeleset dikit, udah, jatuh ke kolam air panas aroma terapi a.k.a air belerang.

Sekitar pukul lima sore, kami sampai di tempat ami mendirikan tenda. Packing, beberapa orang ada yang mandi (saya cuma sempat kramas di depan tenda), sholat kemudian berangkat ke Terminal Guntur setelah mobil jemputan kami datang. Janu sama Kang Sany akhirnya ikut juga, rencana mereka untuk ngelanjutin jalan-jalannya dibatalin.
Sekitar pukul tujuh malam, kami sampai di terminal Guntur yang sudah ramai oleh para pendaki yang juga ingin pulang, kebanyakan dari mereka asalnya dari depok-bekasi. Janu sama kang Sany langsung naik bis ke Bandung, sementara rombongan saya, Upay, Ryan, Uki, Roy, Nurul, Suci, Mas Damar, Wenty harus masuk kantor polisi dulu. Di kantor polisi ini kami sholat sambil nungguin bis menuju Kampung Rambutan, Jakarta.

Pukul delapan malam, kami meninggalkan Garut. Saya luap nyampe di Kp. Rambutannya jam berapa. Yang jelas, di Kp. Rambutan kami yang dari Bogor nyambung naik bis menuju Garut harus misah dengan Wenty dan Mas Damar yang menuju depok (ngejar final Champion).

Alhamdulillah sekitar 30 menit menjelang waktu normal Munchen vs Chelsea selesai akhirnya kami sampai di rumah Ryan dengan selamat dan kekurangan beberapa hal: kaca mata Upay dan Roy, Duit 200 ribu Suci yang jatuh di Bis, . Yessss…. perjalanan yang keren. Nyampe kosan kembali ke projek kuliah yang menanti dengan sabar di pojok kamar. Karena mendaki itu bukan sekedar untuk sampai di puncak, tapi lebih daripada itu…

Puncak bukanlah tujuan utama, melainkan pulang ke rumah dengan selamat | (Januar)

Yepppp…. selesai juga cerita pendakian gunung Papandayan dan Cikurai. Yang pasti, ini adalah perjalanan empat hari tiga malam yang keren melelahkan dan “wow” . Bersama kawan-kawan seperjalanan yang keren dan bersama melakukan beberapa hal lebih keras, lebih kuat, lebih banyak daripada biasanya. Seperti kutipan pendek percakapan Genta dkk sebelum mendaki puncak Mahameru di novel 5 cm karangan Donny Dhirgantoro;

Kalau begitu… yang kita perlu sekarang cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja. (Genta)
Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya. (Safran)
Serta mulut yang akan selalu berdoa. (Dinda)

13 Comments on "[Cikuray-Papandayan] Pendakian Gunung Papandayan"

Hai, would be nice if you leave a reply. :D