Pendakian Gunung Pangrango via Cibodas [1/3]

By | 4 May 2013

Baru sempat cerita ni mas and mbak bro setelah dua minggu berlalu pendakian gunung Pangrango nya. Heheee… Setelah sebelumnya hanya bisa menyapa dari puncak Gede, akhirnya saya bisa berbalik menyapa puncak Gede langsung dari Pangrango. Sekitar awal-awal April dapat ajakan dari kawan GFM yang segera sidang tugas akhir (TA). Katanya sih mau foto di lembah Mandalawangi pake setelan kemeja yang digunakan sidang TA. Oke, saya menyanggupi.

Aktifitas Pasca Sidang: Pendakian Gunung Pangrango

Setelah si Pahmi sidang, jadilah kami mengurus dan mendapatkan SIMAKSI untuk tanggal 14-15 April — Minggu-Senin. Awalnya mau Sabtu-Minggu, tapi karena sudah penuh bahkan denger-denger malah over kuota sekitar 30an orang untuk Sabtu-Minggu, jadinya kita ngambil yang Minggu-Senin. Awalnya mau ber-enam, tapi jadinya cuma berlima; saya, Fachri, Didi, Iif sama Pahmi.

Hari Minggu, ba’da sholat subuh kami langsung berangkat dari kosan Fachri di deket kampus menuju Cibodas dengan menggunakan tiga unit motor. Lewat daerah Tajur, terus ngambil jalur ke Puncak, setelah beberapakali berhenti untuk melengkapi perbekalan serta mengisi bahan bakar motor plus sarapan nasi uduk (dengan gorengan termahal yang pernah kami makan–4rb/1gorengan) akhirnya sekitar pukul delapan pagi kami sampai di daerah Cibodas. Kalau dari arah Bogor, plangnya cukup jelas menunjukan jalan masuk diseberang kanan jalan raya. Dua atau sekitar tiga kilometer dari awal masuk, kita bisa menjumpai gerbang masuk kawasan wisata apa ya namanya(?), kawasan wisata Cibodas aja lah. :v :v :v. Disini sempat dapat marah dari penduduk setempat yang ngejagain gerbang, soalnya kita nerobos, gak mau bayar iyuran yang sebenarnya bisa terbilang sbg pungli, halusnya sih “uang izin masuk wilayah masyarakat setempat” kalo kata saya. Tapi gak terlalu mahal, kalo gak salah motor belakang (Pahmi-Didi) bayar gak sampe 20rb untuk tiga motor.

pendakian gunung pangrango

Setelah markir motor diparkiran kantor Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) yang sepertinya memang dikhususkan bagi para pendaki, ongkos parkirnya kalo gak salah 10rb/motor, dibayarkan ke penjaga gerbang yang meyakinkan meskipun gak pake karcis dan sejenisnya, soalnya si pak penjaga make seragam PDL. Diparkiran kita sempat istrahat cukup lama sambil gantian ke toilet sebelum kami memulai perjalanan ke pos registrasi untuk validasi form izin pendakian yang jaraknya tidak begitu jauh.

Dari parkiran motor, kami masih harus berjalan sekitar satu kilometer untuk mencapai pos awal pendakian yang juga sbg pos validasi form izin pendakian. Setelah berurusan dengan penjaga pos, sekitar pukul sembilan kami mulai berjalan kembali. Jalur diawal tidak begitu menanjak dan sangat amat jelas, berupa jalanan berbatu yang diselingi undakan-undakan. Hal ini mungkin dikarenakan jalur tersebut selain digunakan para pendaki, juga digunakan para pelancong yang ingin berwisata ke Air Terjun Cibeureum yang memang juga berada dalam kawasan TNGGP.

Setelah berjalan sejauh kurang lebih 2 km melewati jalan setapak berbatu, kita bisa menjumpai pos Telaga Biru diseberang kiri jalan, untuk Telaga Biru-nya ada diseberang kanan jalan setapak. Tidak lama berjalan meninggalkan Telaga Biru, kok rasa-rasanya saya sedang berada diantara orang-orang yang ingin belanja ke pasar Pagi. Terlepas dengan keberadaan air terjun Cibeureum, jalurnya bisa dikatakan lagi sangat ramainya untuk ukuran jalur pendakian gunung dengan ketinggian 3.019 mdpl.

pendakian gunung pangrango

Setelah pos Telaga Biru, tidak lama kemudian kita akan sampai pada jalur berupa jembatan kolaborasi antara kayu dan beton. Jembatan dengan dominasi warna hijau ini juga selanjutnya akan mengantarkan kita melewati Rawa Gayonggong. Disepanjang jembatan ini juga banyak kami temui wisatawan dan tukang nanjak yang sedang berpose ria atau hanya sekedar selonjoran melepas lelah. Setelah berjalan sekitar 1 km diatas jembatan hijau, kita akan kembali ke track berbatu yang akan mengantarkan kita ke Pos Panyancangan.

Pos Payancangan merupakan pos yang berada di titik persimpangan antara jalur khusus pendaki dan jalur wisatawan. Berhubung dalam rombongan kami sebelumnya belum ada yang pernah melewati pos ini, jadinya kami dengan kerennya sambil ngobrol santai hampir jalan lurus –simpangan ke kiri– ke arah air Terjun Cibeureum. Untung ditegur sama beberapa pendaki yang lagi ngaso. Jadi saudara-saudara, di Pos Payancangan ini, ambil persimpangan ke arah kanan yang jalurnya agak nanjak kalau niatnya ke puncak Pangrango. Setelah melewati pos ini boleh dikatakan kita baru memulai langkah menyusuri jalur pendakian Gunung Pangrango yang sebenar-benarnya jalur pendakian. [bersambung]

Hai, would be nice if you leave a reply. :D