objek wisata sinjai

Pulang, Menikmati Objek Wisata Sinjai yang Terlupakan

Akhirnya ngepost lagi setelah terakhir kali saya memposting tulisan di blog ini sekitar setahun lalu kurang dua bulan. Bukan karena kekurangan bahan ataupun rasa malas, lebih karena ada hal lain yang mesti ditulis dan skripsi yang harus segera diselesaikan. Berhubung karena hal lain tersebut telah selesai, bukan saja perihal ngeblog yang kemudian dapat kembali terlaksana, tapi juga tradisi memanen rindu; pulang kampung. 

Mengenai hal yang kedua, beberapa pekan yang lalu tepatnya pada perayaan Idul Adha saya pulang kampung. Selain melepas rindu dengan keluarga dan sahabat, kepulangan kali ini juga menjadi momen untuk melepas beban moral berupa laporan kepada orang tua perihal pemenuhan janji kelulusan studi tahun ini. [SARJANA DETECTED] *BlogPostRiya #pengangguranBaru

Oh iya, sebelum lanjut lebih jauh, perkenalkan kampung halaman saya; Sinjai Borong. Suatu kecamatan yang berada di kaki Gunung Bawakareng. Sedikit dari wilayah kabupaten Sinjai yang berhawa dingin, bahkan saya sendiri butuh tiga hari untuk menyesuaikan diri dengan kondisi suhu setempat alias baru mandi di hari keempat. Kabupaten Sinjai bverjaraknya sekitar 4-5 jam perjalanan darat dari kota Makassar. Itu jika melalui jalur yang biasa saya gunakan; Makassar – Gowa – Takalar – Jeneponto – Bantaeng – Bulukumba – Sinjai Borong.

Selain safari ke keluarga besar dan sahabat, ada satu agenda yang bukan menjadi kebiasaan setiap pulang kampung namun kali ini saya lakukan. Agenda tambahan itu adalah kunjungan ke beberapa objek wisata Sinjai yang dulunya pernah menjadi [so called] objek wisata lokal yang menjadi favorit remaja dan pemuda/i setempat menghabiskan sore membunuh jenuh.

objek wisata sinjai

Objek Wisata Sinjai yang Terlupakan

Salah satu objek wisata yang menjadi tujuan saya adalah air terjun Kembar Batu Barae, meskipun saat saya datang penampakannya gak begitu mirip-mirip amat. Mungkin karena debit airnya yang kecil akibat musim kemarau yang belum juga usai. Jaraknya hanya sekitar 15 menit perjalanan dari rumah dengan kendaraan bermotor. Orang-orang juga sering menyebutnya air terjun Barambang karena letaknya yang berada di desa Barambang. Sesuai dengan namanya, objek wisata ini berupa tepi jurang yang terdapat dua air terjun berdampingan. Saya masih ingat, kalau tidak salah air terjun kembar ini ditemukan ketika saya masih SD dulu, ya sekitaran akhir 90an.

objek wisata sinjai

Air terjun kembar.

Awal ditemukan hingga beberapa tahun selanjutnya, setiap akhir pekan objek wisata ini ramai dikunjungi, baik oleh masyarakat Sinjai maupun dari kabupaten tetangga meskipun untuk mencapainya masih harus berjalan kakai cukup jauh melewati jalanan tanah. Saking terlihat potensialnya mungkin, meskipun terbilang telat tapi akhirnya dibangunlah fasilitas pendukung beberapa tahun kemudian. Seperti pembanguna jalan beraspal yang memungkinkan motor bahkan mobil dapat langsung mengakses ke atas bukit tempat air sungainya mulai terjun. Lalu disepanjang sungai aliran air terjunnya dibangun bendungan dan bangunan berupa villa serta beberapa gazebo. Selain itu, pemerintah juga menertibkan penjual jajanan dan makanan dengan membuat bangunan berupa kios semi permanen di sepanjang aliran sungai dekat air terjun. Selain melakukan pembangunan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar, tak lupa pula pemerintah merapikan distribusi tiket masuk guna mengoptimalkan pendapatan daerah.

Itu beberapa tahun lalu, bahkan mungkin belasan tahun lalu.

ini baru sekitar 1/5 dari seluruh anak tangga yang harus dilalui.

ini baru sekitar 1/5 dari seluruh anak tangga yang harus dilalui.

Beberapa pekan lalu saya ke sana, saya hanya mendapati pos ticketing yang dijaga kakek-kakek renta. Tiketnya sudah Rp 7.500,-/orang, sekitar tiga kali lipat dari harga masuk terakhir saya ke sana. Setelah memperoleh tiket, kita masih harus berjalan menuruni tangga yang lumayan panjang dan curam untuk mencapai hilir air terjun.  Kondisi tangganya sudah rusak, tidak terawat bahkan mungkin sudah jarang tersentuh kaki-kaki manusia. Hal ini tercermin dari anak-anak tangga yang sudah ditumbuhi rumput serta besi-besi pembatasnya sudah banyak yang terlepas.

Sesampainya di hilir air terjun, ternyata pagi itu pengunjungnya hanya saya dan dua orang kawan yang jauh-jauh datang dari Takalar. Sepi sunyi dan agak horor. Nuansa horor terasa karena tempat yang dulu ramai dan tertata rapi kini seolah berupa area tak bertuan, tak berpengurus, yang ditinggalkan begitu saja. Hal ini terlihat dari adanya beberapa pohon tumbang di area yang seharusnya menjadi area untuk mandi-mandi dan berfoto ria.

Indikasi lainnya adalah beberapa sampah anorganik berupa bungkus makanan dan kaleng minuman telah tertutupi rerumputan. Bendungan sudah hancur entah karena apa, gazebo-gazebo masih ada namun penuh dengan rerumputan dan coretan-coretan vandalisme. Tidak ada lagi kios semi permanen yang menyediakan minuman soda dan nasi kuning, hilang bersama kepopuleran objek wisata ini. Bangunan villa berupa rumah panggung juga sudah tidak terawat, sangat memenuhi standar untuk menjadi tempat pembuatan FTV-FTV horor yang ceritanya selalu sama; sekumpulan anak muda perkotaan datang ke desa lalu berurusan dengan penunggu tempat angker karena kekonyolan salah satu dari pemuda tersebut yang terlalu penasaran dan tidak percaya dengan hal mistis.

Meskipun begitu, kami bertiga masih bisa bersenang-senang. Menikmati keindahan alam yang terasa sangat alami, alami– jauh dari campur tangan manusia, entah campur tangan itu membawa kebaikan maupun kerusakan. Tapi ya gitu, habis senang-senang, pulangnya harus mengerang-mengerang gegara harus ngedaki tanjakan anak tangga yang besoknya bikin sendi dan otot-otot saya ngilu selama tiga hari dua malam. Udah itu aja, postingan comeback nya sudah terlalu panjang kayaknya. Lain kali kita sambung dengan topik berbeda. Ehhehehee

Ohhh iya, kalo dalam hati bertanya-tanya kenapa saya memilih menggunakan kata “terlupakan” dari pada kata “diabaikan”?. Jawabnya sederhana; biar lebih men-drama. :)

5 Comments on "Pulang, Menikmati Objek Wisata Sinjai yang Terlupakan"

  • Akhirnya… Udah lama nggak liat tulisan baru di Blog ini. Kangen juga ane Bang hehe. Apa kabar Bang ? Ente salah satu yang nginspirasi ane ngeblog lho, hahaha.

    • gomballlll :v :v :v

      sehat bro, semoga begitupun dgn nt… Alhamdulillah bisa ngeblog lagi.

      buruan selesain sekolahnya dan jan lupa oleholeh nenarutoan ya. :)

      eh… btw, di sana udah jadi wota belum? wkwkw

    • Ya sekali-kali ngegombalin cowok lah, wkkwkwkwk. Bru juga 2 bulan bang disini msih lama perjalanan, masih banyak cerita2 yg akan ditulis #tsaahh hahaha

  • Ccang :D :D
    Sa kira berhenti mako ngeblog :D
    Ketemu lagi kita :)) Teman ngeblog jaman dulu hihihi.

    Tawwa cantiknya air terjun di Sinjai. Disini juga banyak air terjun, tapi belum pernah k’ kesana. Masih mikirmikir kalau mesti bawa Sedja :D

    ps. Komentarnya ndak bisa pakai bahasa formal ya, saya kalau ngomong sama temanteman Makassar itu “Makassar”nya ndak bisa hilang wkwkwkw

    • ehhehhe….
      bukan berenti, semacam hiatus ji saja
      tapi hampir setahun. ini baru mau lagi kasi jadi aktifitas rutin lagi ini nge blog.

      cantik tapi ndak terawat :(
      eh… asik ya jadi ibu, banyak bahan buat ngeblog.

      baaa samaji, sa kalo ketemu rang makassar jg ndak ya hantam ji jg pake bahasa indonesia yg di makassarkan.

Hai, would be nice if you leave a reply. :D