kode untuk republik salah cetak

Mengganti Buku Salah Cetak ke Gramedia itu Gampang

Sekitar sebulan lalu saya ke sebuah mall ternama di Bogor, sebut saja Boqer. Niat awalnya adalah untuk melihat-lihat harga sepatu, niat akhirnya kalau ada yang cocok dengan selera dan kantong mungkin bisa langsung saya beli. Dari perjalanan saya menginspeksi tiap lantai di Boqer, saya menemukan beberapa pasang sepatu yang sesuai selera dan cocok dengan kantong– dengan ketentuan untuk dua minggu kedepan harus makan mie instan campur kardus sepatu. Alias cuma bisa mewujudkan niat awal saja. Itu sudah, lagian nga mendesak-mendesak amat. 

Buy what you need, not what you want. – Uwang, dalam Kantong membelenggu Nafsu

Misi utama sudah terlaksana meskipun bisa dikatakan gak sakses-sakses amat. Selanjutnya adalah misi wajib setiap kunjungan ke mall, wisata literasi alias mampir sebentar ke Gramedia. Urutannya adalah baca beberapa komik, keliling-keliling say hai ke buku terbitan baru, baca cover belakangnya; entah potongan isi ataupun potongan pengantar atau mungkin testimoni dari beberapa selebtwit yang akhir-akhir ini agak ngetren. Namun yang utama dari pengecekan cover belakang buku adalah memeriksa kode ISBN [wiki] yang biasanya tidak jauh dari situ terdapat tempelan harga :).

Setelah memeriksa beberapa kode ISBN buku, ada satu buku yang menarik dan cocok di bawa pulang. Maka pulanglah saya dengan membawa kresek Gramed berisi buku Kode Untuk Republik: Peran Sandi Negara di Perang Kemerdekaan yang diterbitkan penerbit Marawa.

Mengganti Buku Salah Cetak ke Gramedia

Dalam beberapa kasus pembelian buku, saya kadang termasuk golongan orang-orang yang tidak langsung membaca buku yang baru saya beli. Hal tersebut berlaku pada buku Kode Untuk Republik selanjutnya sebut saja KUR. Sesampai di asrama, saya cukup keluarin dari kreseknya lalu taroh bukunya di meja serbaguna, sementara kreseknya saya jadikan kantong sampah.

Baru sekitar seminggu kemudian, saat ada keperluan ke Jakarta tepatnya sih ke Sudirman barulah saya membuka plastik dan cap harga buku KUR untuk kemudian saya jadikan teman seperkeretaan. Beruntung saya berangkatnya gak siang gak pagi, jadi bisa duduk dan membaca sepanjang perjalanan. Belum sampe manggarai saya sudah berhenti membaca, bukan karena sudah selesai tapi karena ada kesalahan teknis berupa cacat cetakan yang lumayan parah pada teman seperkeretaan saya. Dari halaman 176, halaman selanjutnya mengulang ke halaman 17 hingga 48. Kemudian berakhir di daftar pustaka. Artinya, saya merasa kegantung gaes. Selama di Jakarta sampe balik lagi ke Bogor saya gak konsen gegera halaman buku yang nge-looping.

kode untuk republik salah cetak
Sampe Bogor, langsung dah saya foto halaman yang cacat terus saya attach ke akun twitter Gramed [@gramediabooks] sama penerbit Marawa [@MarawaID] pakai kalimat-kalimat komplain curhat. Melalui convo saya dengan kedua akun twitter tersebut saya baru tahu kalo untuk penggantian buku ke penerbitnya langsung dalam hal ini Marawa harus mengirim buku yang cacat beserta struk pembeliannya ke kantor mereka.  Masalahnya disini, saya buka orang yang senang mengoleksi struk belanja, struknya hilang entah kemana, kayaknya kebuang bersama kertas sampah lainnya di kresek gramed yang saya jadikan kantong sampah. Intinya, pihak penerbit Marawa gak bisa ngeganti buku yang cacat cetak tanpa ada bukti struk belanjaan. Harapan saya sisa ke reply-an akun Gramed.

Berbeda dengan Marawa, akun Gramed agak lebih memberi harapan palsu. Meskipun awalnya juga mensyaratkan struk pembelian namun akhirnya meminta saya untuk menghubungi langsung ke pihak Gramed Boqer agar dapat diupayakan penggantian tanpa harus ada struk. Saya di mensyenkan nomer telepon Gramed Boqer. Punya pengelaman kurang baik dengan beberapa nomor telepon dengan embel-embel customer service, saya putuskan gak nelpon, saya mau langsung ke sana saja. 

Maka ke Gramed Boqer-lah saya, ketemu mba-mba kasirnya, curhat bentar lalu di arahkan ke mas-mas trainee di meja informasi yang nyuruh saya nunggu bentar. Kemudian mba-mba kasirnya ke meja informasi, nyalain mikrofon kemudian manggil mas SS kalo gak salah. Begitu mas-mas SS nya nyamperin ke meja informasi, ya saya curhat lagi, me-review curhatan saya sebelumnya ke mba-mba kasir yang ramah. Tanggapan mas-mas SS kembali bikin sedih, katanya gak bisa ditukar kalo gak ada struk belanjanya. Karena nanti bakalan masalah ketika ada audit. Terus sayanya ditinggal begitu aja di meja informasi.

Di meja informasi saya gak sendiri, di sisi meja lainnya ada mas-mas trinee yang masih sibuk dengan keyboard komputer, entah nginput data apaan. Sambil dicuekin saya main HP, sambil sesekali menatap mesra ke mata mas-mas trinee. Setelah lebih dari setengah jam main HP di meja informasi, entah karena risih sering saya liatin ato emang kerjaannya sudah selesai, mas-mas trinee yang baik itu ngambil buku KUR yang cacat sambil ngomong “bentar ya mas, saya coba ngomong ke kepala toko nya”.

Gak sampe 15 menit, mas-mas trinee nya sudah datang kembali sambil membawa buku KUR yang cacat beserta satu buku KUR yang masih kebungkus plastik dan bercap harga. Sambil duduk si mas yang baik hati ngomong “maaf ya mas, agak lama tadi harus nego dulu sama kepala tokonya”. Terus, sambil nyodorin dua buku KUR, dia lanjut ngomong “ini buku penggantinya, silahkan dicek dulu”. Voilà, saya dapat buku KUR dengan cetakan yang baik dan benar.

mengganti buku salah cetak ke gramedia

lokasi: meja informasi | kiri itu buku baru, kanan itu buku yg saya minta gantinya

Pesan saya, jangan pernah membuang struk pembelian buku anda sebelum buku itu benar-benar telah terbaca habis. Ulasan bukunya nyusul nanti yaa.

Hai, would be nice if you leave a reply. :D