kasus-susu-formula-ipb

Kasus Susu Formula: Sebuah Gugatan untuk Almamaterku

Akhir-akhir ini santer terdengar kabar melalui berbagai media tentang topik kasus susu formula yang tercemari oleh bakteri Enterobacter sakazakii. Sejenis bakteri yang dapat menyebabkan penyakit berat seperti peradangan saluran pencernaan (enteritis), infeksi pembuluh darah (sepsis) dan infeksi pada selaput otak dan saraf tulang belakang (meningitis).Isu kali ini cukup mengusik saya untuk mengulas atau lebih tepatnya memberikan pandangan pribadi terhadap kasus yang menimpa salah satu institusi pendidikan terbaik di tanah air, yah Institut Pertanian Bogor, almamaterku. Silahkan anda lihat di sudut kanan atas blog ini, dengan bangga saya memasang badge IPB. Dan tulisan kali ini tidak saya buat karena dendam setelah melihat IP saya jeblok, bukan!. Ini lebih kepada apa yang ada di nurani saya.Seperti kita ketahui, pada tahun 2008 peneliti di IPB merilis sebuah hasil penelitian yang menyebutkan bahwa beberapa produk susu formula mengandung bakteri Enterobacter zakazakii.
kasus susu formula ipb
Sebuah penelitian yang dapat merugikan beberapa pihak yang berkepintingan dengan produksi susu formula, khususnya para produsen. Selain dapat merugikan beberapa pihak, penelitian ini juga sangat menolong dalam upaya melindungi masyarakat khususnya para konsumen susu formula yang kebanyakan merupakan bayi serta ibu hamil dan menyusui. Namun disinilah kesalahannya menurut saya, peneliti IPB memang mengumumkan hasil penelitiaannya, tapi tidak menyertakan merek susu formula yang terindikasi mengandung bakteri. Hingga mengakibatkan keresahan dikalangan masyarakat, khususnya para konsumen sufor. Timbul pertanyaan, apakah sikap yang ditunjukan oleh IPB ini mencerminkan salah satu tri darma perguruan tinggi; “pengabdian masyarakat”??. Atau mungkin karena ada hal lain, sehingga para peneliti IPB tidak membeberkan merek susu yang mengandung bakteri, apakah hal ini menyangkut etika dalam penelitian, kalau memang iya, apakah itu harus mengorbankan para bayi yang notabene merupakan konsumen utama susu formula?? haruskah rasa kemanusiaan diabaikan demi memenuhi aturan penelitian?? haruskah kita menunggu surat kepeutusan dari MA untuk mencegah masyarakat menderita??.

Terus terang saja, meskipun saya termasuk orang yang tega-an, saya tetap tidak tega menyaksikan bayi yang notabene merupakan masa depan Indonesia menderita penyakit berbahaya akibat telah terkontaminasi bakteri berbahaya melalui susu formula.

Selain aspek etika dan aturan yang dipegang oleh apara peneliti IPB, masih banyak opini publik yang bergentayangan menyangkut penyebab IPB belum (saya tidak ingin mengatakan “tidak”) mengumumkan merek susu yang tercemari bakteri. Bahkan lebih parahnya, ada opini publik yang mengatakan bahwa hal ini menyangkut kepentingan untuk melindungi produsen susu. Kalau memang benar, ini merupak sebuah kesalah fatal, kita mengabaikan kesehatan konsumen demi kelancaran sebuah industri. Selain mengorbankan konsumen, hal ini juga dapat menjatuhkan kredibilitas dan kepercayaan masyarakat terhadap IPB. Selaku mahasiswa IPB, saya tidak ingin hal itu terjadi, karena itulah saya menulis ini, karena saya masih dan akan terus mencintai IPB, almamaterku. Akan sungguh memalukan ketika sebuah institusi yang menghususkan diri terhadap urusan-urusan pangan tidak mampu memberikan perlindungan dalam segi kesehatan pangan terhadap masyarakat. Akan sangat menyedihkan ketika sebuah PT yang memiliki jurusan Ilmu Keluarga dan Konsumen tidak mampu mewujudkan hak-hak konsumen untuk mengetahui hal yang berkaitan dengan barang yang mereka konsumsi serta dampaknya terhadap kesehatan mereka.

Kalau memang merek yang mengandung bakteri berbahaya tersebut tidak disampaikan, apakah hal itu untuk melindungi konsumen?? bagaimanapun, anak-anak SD juga tahu kalau hal tersebut lebih mengarah kepada perlindungan produsen.

Satu hal lagi, akan sangat miris ketika seorang mahasiswa membiarkan almamaternya kehilangan kepercayaan dan kredibilitas di mata masyarakat, karena itulah tulisan ini tercipta, ada baiknya sebagai orang dalam kita mengingatkan sebelum orang luar merongrong kita dengan berbagai cercaan.

Keep feed the world, IPB!!

3 Comments on "Kasus Susu Formula: Sebuah Gugatan untuk Almamaterku"

Hai, would be nice if you leave a reply. :D