Nanjak Bersama Hujan di Jalur Pendakian Gunung Gede

Kita lanjutin cerita yang kemaren ya.

26 Desember 2012
Setelah sholat subuh, dilanjut dengan nyeduh kopi, kemudian repacking lagi, akhirnya sekitar pukul tujuh pagi kami memulai perjalanan. Tentunya dengan terlebih dahulu singgah melapor ke pos Gunung Putri yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari tempat penitipan motor. Di pos ini Upay mengurus segalanya, menyerahkan form pendakian serta list barang bawaan. Yang pasti tidak boleh ngebawa barang yang berbusa, semisal sampho dan sabun. Khawatir ngerusak alam kali ya. Selain itu juga tidak di perkenankan membawa benda tajam semacam golok, tapi kalo sebatas pisau dapur atau survival kit sih masih di bolehkan. Terus demi keselamatan, pendaki di haruskan menggunakan sepatu, tapi pada akhirnya karena alasan ketidak nyamanan, saya lepas sepatu trus make sendal gunung setelah melewati pos Gunung Putri. :D 

Meniti Jalur Pendakian Gunung Gede bersama Hujan

pendakian gunung gede

menyaksikan bidadari jatuh ke arah kebun bawang

Di track awal ini kita masih melewati jalur-jalur di antara kebun petani setempat yang didominasi bawang dan kol. Setelah itu kita akan melewati sungai tempat saya mengganti alas kaki, :D. Kemudian kita akan menemui jalur berupa tangga dari batuan yang sudah sediakan menuju gerbang masuk kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).

gerbang di jalur pendakian gunung gede

gerbang di jalur pendakian gunung gede

Setelah istrahat sejenak, perjalanan kemudian dilanjutkan dengan track yang cukup jelas. Setelah itu dengan beberapa kali minta tiga menit (minta istrahat) akhirnya kami sampai di pos Legok Lenca (2150 Mdpl), kemudian lanjut ke pos Buntut Lutung (2300 Mdpl), lalu akhirnya sampai di pos Lawang Seketel (2500 Mdpl). Nah, karena memang ini pertama kalinya, kerasa banget selisih jarak Buntut Lutung – Lawang Seketel jauh lebih jauh dibanding Legok Lenca – Buntut Lutung. Kalau gak salah ingat nih ye, setelah ngelewatin Lawang Seketel ini kami sempat beberapa kali bongkar pasang ponco / jas hujan.

Karena hujan dan udara makin dingin memaksa tubuh membakar lebih banyak kalori buat menghasilkan energi dan panas sehingga memaksa kami bongkar logistik buat makan siang sebelum mencapai pos Simpang Maleber (2625 Mdpl). Disini lunch nya berbagi dataran dengan kelompok pendaki dari Bekasi yang semuanya masih SMA.

makan siang pendakian gunung gede

lunch after rain

Setelah makan siang, packing kembali kemudian perjalanan dilanjutkan. Melewati pos Simpang Maleber yang merupakan pos terakhir sebelum mencapai Surya Kencana. Dari SM menuju Surken ini track-nya didominasi dengan track yang lumayan datar, banyak track bonus disini.

Sekitar pukul satu atau dua siang, kami akhirnya sampai juga di padang Edelweiss yang lebih dikenal dengan dengan sebutan Surya Kencana (Surken). Ada yang tau kenapa disebut Surya Kencana?

Dari “pintu masuk” Surken ini kami kembali berjalan layaknya sedang berjalan di sebuah padang pasir, cuma bedanya ini padang Edelweiss. Kalau di padang pasir yang jadi masalah adalah suhu panasnya, di sini yang jadi masalah adalah angin dinginnya. Butuh sekitar 60 menit buat kami berjalan mengitari Surken untuk sampai di tempat yang layak dan aman untuk mendirikan tenda. Layak dan aman maksudnya terlindung dari terpaan angin yang bisa saja merobohkan tenda serta jaga-jaga kalau sumber air yang ada di Surken meluap karena waktu itu hujannya sering datang, dan datangnya juga gak sungkan-sungkan.

Begitu selesai mendirikan tenda, langsung dah bersih-bersih, sholat dan masak lalu makan sore. Kalau selama perjalanan nanjak tadi, hujan, otot paha Julian, dan stamina saya yang bermasalah (ini sudah biasa :D), muncul sesuatu yang tidak diduga, Eky tiba-tiba demam. Jadilah kembali kita memikirkan ulang untuk rencana esok hari yang rencananya mau lanjut ke gunung Pangrango.

Sambil nunggu magrib, semua pada mencar, dengan caranya masing-masing menikmati wajah Surya Kencana yang dipoles cahaya dari ufuk barat. Setelah mengantarkan sang Surya kembali ke peraduannya, satu persatu pendaki mulai menghilang. Semuanya pada masuk tenda karena sepertinya tidak mampu lagi mentolerir hawa dingin serta hujan yang mulai turun. Dengan space seadanya, dan air buat wudhu sedingin-dinginnya, sepertinya menjadi cobaan tersendiri untuk menunaikan sholat. Setelah itu, makan malam lalu masuk sleeping bag masing-masing sambil menunggu jam sembilan malam buat tidur. Berharap pada saat bangun nanti energi dalam keadaan cukup untuk melakukan summit attack yang rencananya sih mulai jalan sekitar pukul tiga dini hari, jadi paling tidak pukul dua sudah harus bangun. [masih berlanjut]

foto oleh Ozi.

6 Comments on "Nanjak Bersama Hujan di Jalur Pendakian Gunung Gede"

Hai, would be nice if you leave a reply. :D

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.