Idul Adha ala Bang Toyib

Tahun ketiga di Bogor, tahun ketiga jadi mahasiswa IPB, tahun ketiga merayakan Idul Adha jauh dari orang tua dan saudara, tahun ketiga melaksanakan shalat Ied di pelataran GWW IPB, tahun ketiga lebaran haji tanpa sungkeman dengan istri orang tua secara langsung. Sudah sempurna tuh lirik “…tiga kali lebaran… gak pulang-pulang…”

Sedikit cerita aja, Idul Adha kali ini bertepatan dengan hari minggu, dan sama sekali gak ada liburan akademik meskipun sahari dari pemrintah, IPB khususnya. Sebagai salah satu dari sekian ribu ratus mahasiswa yang berasal dari seberang pulau Jawa. Selain karena tidak adanya liburan, yang pasti ongkos juga menjadi pertimbangan untuk merayak lebaran Haji 1432 H bersama keluarga dirumah tercinta.

Di kosan, dari sembilan orang, yang tersisa lima ekor manusia. Sisanya penduduk Jabodetabek, pada balik. Dari lima orang ini hanya saya yang sholat di GWW, lainnya pada sholat di dekat kosan.

Yang menjadi imam sekaligus khatibnya adalah Pak Hasyim, dekan FMIPA IPB. Salah satu yang disampaikan beliau dalam khutbahnya adalah “Dengan semangat Qurban kita tebar Protein Hewani berkelanjutan untuk lahirkan generasi sehat dan cerdas serta berkemampuan menjdikan Indonesia lumbung pangan dan apotik Dunia”. Tak lupa, sama seperti ketika beliau mengisi khutbah Jum’at, beliau juga menyinggung sedikit tentang cara kerja RNA dalam transfer protein. Berasa lagi ngikutin kuliah umum di departemen Biokimia.

Usai sholat Ied, saya balik lagi ke kosan lalu balik lagi ke sekitaran kampus buat silaturahmi dengan tetangga penjaga warteg. Beli makan, lalu balik lagi ke kosan kemudian berangkat lagi ke asrama mahasiswa Sulawesi Selatan yang berada di sekitaran RS Karya Bakti.

Bertemu kawan-kawan yang senasib, sama-sama dari Sul-Sel dan sama-sama merindukan makanan tradisonal ala kampung halaman ketika ada hari raya, semacam burasa, legese’, kampalo, coto makassar, bajabu dan tentu saja opor ayam buatan tangan ibu tercinta.

Di asrama, ternyata sudah siap-siap anak angkatan 2011 sedang memasak mie titi, semacam mie kering yang di siram dengan kuah bercampur sayuran, ayam atau daging. Tapi karena ini versi mahasiswa, campurannya cukup pake irisan bakso dan sayuran.

Habis shalat ashar, langsung balik lagi ke kosan. Tapi singgah dulu ke sekitaran kampus, soalnya dapat panggilan dari sepupunya Ibu yang juga kuliah pasca di IPB. Masuk kosannya tante, eh malah ketemu banyak ibu-ibu mahasiswa pascasarjana asal Sulawesi yang lagi pada ngomongin derita hidup tinggal bersama mertua, sampai ada cerita yang mengingatkan saya dengan sinetron Cinta Fitri.

Di kosan tante ini lah saya menemukan sedikit kecerahan, sambil dengerin ibu-ibu lagi berbagi pengalaman bermertua, saya disuguhi ketupat, opor ayam dan yang paling keren tentu saja ada Coto Makassar serta Legese’. Wooohhhh…. what a wonderFULL STOMACH.

Habis makan, pamitan buat balik ke kosan. Oh iyah, lupa kalau tadi setelah bubaran sholat Ied, saya sempat ikutan foto-foto bersama beberapa kawan dari KAMMI IPB, lumayan buat kalender edisi lebaran Haji :).

Foto ini dicomot tanpa izin dari group FB KAMMI Izzudin Al-Qasam IPB, yang diunggah oleh Fajri (Jongkok, dua dari kanan).

3 Comments on "Idul Adha ala Bang Toyib"

Hai, would be nice if you leave a reply. :D