Hardiknas: Saya Butuh LSM, Bukan Negara

Mau bilang apa coba? Tanggal 2 Mei begini enaknya yah ngomong “Selamat Hari Pendidkan Nasional”. Iya tak? Setuju dong!Hahahaa… itu orang sebelah lagi ketawa, “hahaahaa” bunyinya. Hardiknas, (yang sengaja) dirayakan bertepatan dengan hari lahir Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara. Hari Besar Nasional yang biasanya dan [di]harus[kan]nya dirayakan oleh setiap instansi pendidikan di seluruh nusantara.

Ada banyak cara merayakannya, yang paling umum adalah upacara bendera serta pembacaan pidato Menteri Pendidikan Nasional (mohon koreksi kalau salah, maklum sudah 2 tahun tidak ikut upacara Hardiknas), ada juga yang mengadakan event-event yang temanya pendidikan nasional (biasanya sih LSM), lalu ada juga yang merayakannya dengan demonstarsi turun ke jalan (biasanya…), lalu ada lagi yang lebih parah-memperingati Hardiknas dengan benar-benar meng-Hardik pemerintah di jalanan.

Dari semua cara itu, intinya sih sama; mengevaluasi kondisi pendidikan nasional saat ini. Dimana pendidikan masih menjadi salah satu komoditi untuk mendapatkan penghasilan dengan mendiskreditkan orang-orang tidak mampu. Padahal ketidakmampuan dalam hal ekonomi bukan berarti berbanding lurus dengan kemampuan intelektual seseorang, karena justru di lembaga pendidikan itulah harusnya menjadi wadah penajaman kecerdasan tidak peduli kaya atau miskin, jelek seperti kamu atau keren seperti saya, ganteng kayak saya atau cantik kayak kamu; UUD 1945 pasal 31 ayat 1:”Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran”.
evaluasi hardiknas

Belajar dari Beasiswa ala Suku Bajo

Saya masih ingat ketika pekan lalu sempat mengikuti road show Eagle Award-Documentary Competition 2011. Salah satu rangkaian acaranya adalah pemutaran beberapa film finalis EADC tahun-tahun sebelumnya, termasuk film dokumenter finalis tahun 2009 dari IPB yang berjudul “Sang Pengumpul Asap”. Semuanya keren, kalau gak salah ada tujuh film, berarti ada tujuh film dokumenter keren yang saya nonton dalam satu hari itu. Namun jika standar kekerenan sebuah film adalah seberapa banyak air mata yang dihasilkan karena pemutarannya maka saya lebih memilih “BEASISWA ALA BAJO”.

Beasiswa Ala Bajo menceritakan tentang tekad masyarakat Bajo untuk maju merubah nasib mereka. Dan salah satu jalan yang mereka sadari dapat mengubah nasib mereka, anak cucu mereka menjadi lebih baik dari keadaan mereka sekarang adalah melalui jalur pendidikan. Menceritakan tentang bagaimana seluruh warga desa suku Bajo di Sulteng saling bahu membahu agar salah seorang pemuda desanya mampu melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Film yang menggugah sekaligus membuat ketawa, seperti kata Mas Alianto dari Eagle Award kurang lebih seperti ini: “Sudah banyak stasiun TV tetangga memproduksi tontonan yang membuat kita menangis namun setelahnya kita dapat tertawa lagi, tapi disini kita memfilmkan indonesia yang membuat kita tertawa namun di ujung kita akan menagisinya (kondisi negeri ini)”.

Inilah realita, pembangunan pendidikan belum merata. Lalu ada juga film tentang sekolah yang bertujuan memberikan pendidikan gratis terhadap anak jalanan yang didirikan oleh seorang masyarakat biasa. Kemana negara? yang katanya UUD 1945 dalam pasal 34 bahwa “Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara”. Saya jadi ingat ketika mengikuti DM 1 kemarin, MC sekaligus Kadep Kaderisasi Komsat IPB kurang lebih mempertanyakan keberadaan negara (Indonesia) dengan berkata:”…hampir semua tugas negara telah dikerjakan oleh LSM”. Jadi, bagaimana dengan anda, masih butuh negara atau butuh LSM???

Kalau saya sih butuh LSM (Langganan sampai Mati) Warteg gratisan. Terus kalau boleh, kan fakir miskin sama anak-anak terlantar yang harusnya dipelihara oleh negara ternyata lebih banyak dipelihara oleh LSM, bagaimana kalau pasal 34 diamandemen aja jadi “Fakir bandwith dan anak kosan dipelihara oleh negara”. Yah itung-itung biar negara punya kerjaan dan agak eksis dikitlah.Yang sekapat tunjuk kaki pake tangan!!!

1 Comment on "Hardiknas: Saya Butuh LSM, Bukan Negara"

Hai, would be nice if you leave a reply. :D