Efek Rashomon

Awalnya nemu istilah “efek rashomon” di halaman-halaman awal biografi Steve Jobs yang ditulis sama Walter Isaacson. Maka mulailah saya nanya-nanya ke om Gugel. Oke, CMIIW yoo!!!

Rashomon adalah adalah gerbang utama kota di Heijokyō, Prefektur Nara, Jepang (kini Heiankyō, Kyoto, Jepang). Rashomon juga sering dikaitkan dengan Rajomon yaitu pintu gerbang pada zaman Heian (794-1185), sekarang terletak di perfektur (daerah setingkat provinsi) Nara. Mon berarti gerbang. Ketika itu, ibukota Jepang terletak di Nara.

Pada tahun 1915, di Jepang muncul cerita pendek dengan judul Rashomon karya Akutagawa Ryunosuke. Pada cerpennya ini, Ryunosuke mengambil latar suasana kota Kyoto setelah ditimpa bencana beruntun mulai dari gempa bumi, angin puyuh, kebakaran, dan paceklik. Sebab itu Kyoto menjadi kota yang senyap dan porak-poranda. Tokohnya adalah seorang Genin (samurai kelas rendah) dan Nenek Tua yang sama telah dipecat oleh majikannya masing-masing. Diceritakan tentang si Genin yang sedang berteduh dari hujan dibawah Rashomon. Saat itu Rashomon digunakan sebagai tempat pembuangan jasad para penduduk kota yang menjadi korban bencana dan wabah. Disana, si Genin bertemu si Nenek Tua yang sedang mencabuti rambut mayat-mayat yang bergelimpangan untuk membuat cemara dan kemudian dijual. Genin kemudian menengurnya, karena merasa apa yang dilakukan si Nenek Tua itu merupakan sebuah kejahatan besar. Disinilah konflik antara si Genin dan Nenek Tua bermula hingga akhirnya si Genin berhasil merampas pakain si Nenek Tua kemudian meninggalkannya tergeletak di Rashomon bersama jasad-jasad yang telah Nenek Tua cabuti rambutnya. Sementara si Genin, seperti apa yang dipilih oelh si Nenek Tua, akhirnya dia menyerah pada keterpurukan kondisi sosial pada saat itu, si Genin memutuskan untuk menjadi penyamun demi menyambung hidup.

efek-rashomonSetelah cerpen, pada tahun1950 muncul film dengan judul yang sama serta diadaptasi dari cerita-cerita karya Ryunosuke. Film adaptasi ini di sutradarai oleh Akira Kurosaki yang mengantarkannya meraih piala Oscar pada kategori Film Berbahasa Asing Terbaik. Film ini menceritakan tentang empat orang yang bersaksi untuk kasus kematian seorang samurai. Ada Tajomaru si penjahat jalanan, lalu ada tokoh penebang kayu yang katanya menyaksikan langsung kejadian pembunuhan tersebut, lalu ada  Masako istri si samurai, dan saksi ke-empat adalah si Samurai itu sendiri yang kembali dihadirkan oleh oleh seorang dukun. Dalam kesaksiannya, ke-empat saksi ini menyampaikan kesaksian yang masing-masing berbeda jauh dan masing-masing bersikeras mempertahankan kebenaran kesaksian berdasarkan persepsi dari mereka. Film ini menunjukan betapa relatif dan absurdnya sebuah kebenaran berdasarkan pandangan subyektif. Butuh bukti nyata untuk sebuah kebenaran, bukan sekedar sekedar perkiraan dari hasil “meraba-raba” imajinasi.

Dari film inilah kemudian muncul istilah “efek rashomon” yang mewakili suatu kondisi dimana terjadi perbedaaan versi cerita setelah beberapa orang dihadapkan pada suatu peristiwa yang sama kemudian diminta untuk menceritakan kembali peristiwa tersebut. Perbedaan disini dapat berupa detil sederhana seperti nama para tokoh/pelaku namun dapat pula berupa perbedaan yang besar dan mendasar seperti hubungan sebab akibat yang terjadi dalm peristiwa tersebut. Pernah mengalami atau menyaksikan langsung orang-orang yang terkena efek Rashomon? :D

——————————————————————————————————————
referensi dari Wikipedia [1], [2], [3] || inspirewhy[dot]com
sinopsis cerpennya unduh dan baca dari http://thesis.binus.ac.id
Gambar minjem dari kellimarshall[dot]net
*entah berapakali saya salah ketik “romoshom” dan “rhosomon”

Hai, would be nice if you leave a reply. :D