e-Commerce dan Manusia Mental Tempe

Kemudahan itu selalu muncul sebagai dampak berkembangnya teknologi. Tak terkecuali di bidang manufaktur, teknologi saat ini juga telah merambah sektor usaha kecil menengah. Terkhusus pada bidang pemasaran, dengan semakin meningkatnya kecepatan internet serta kemudahan dalam membuat website, orang-orang berbondong-bondong membuka toko online. Hampir disetiap “inci” dunia maya dapat kita temukan online shop yang memasarkan produksi sendiri maupun sebagai reseller. Bahkan, bagi beberapa kalangan, tidak perlu pusing dan mengeluarkan biaya pembuatan website e-commerce hanya untuk sekedar berdagang online. Mereka memanfaatkan “hobi” mereka yang senang berlama-lama dengan situs-situs sosial media yang marak saat ini; twitter, facebook, instagram dll.

from: http://www.thedigitaldepartment.ie/

from: http://www.thedigitaldepartment.ie/

e-commerce

cuma ganti nama doang

Bukan hanya itu, ada juga beberapa kalangan yang lebih “heroik” lagi dengan memanfaatkan keduanya. Website sebagai toko tempat transaksi / belanja pelanggan, sementara sosial media digunakan sebagai “pegawai” marketing yang cukup ampuh baik dari segi jangkauan maupun efektifitas penyampaian informasi, dalam hal ini facebook menjadi pilihan utama. Tentunya dengan beberapa catatan, misalnya si penjual harus punya minimal satu akun facebook dengan jumlah teman yang tentunya harus lebih banyak daripada orang-orang biasa yang hanya memanfaatkan sosial media untuk sekedar “keep in touch” dengan teman dan keluarga.

Makanya jangan heran, ketika anda bahkan saya sendiri sering tiba-tiba mendapatkan kiriman foto via facebook oleh akun yang selama ini kita merasa tidak pernah menambahkan ataupun menerimanya sebagai teman di FB. Namun ketika di selidiki, ternyata disana ada foto-foto teman atau keluarga yang anda kenal bahkan dengan profil yang masih lengkap dan asli kecuali namanya yang mungkin telah berubah menjadi “Toko Pameran Elektronik” serta nama-nama sejenisnya.

Inilah yang saya sebut sebagai tindakan pencurian akun entah dengan tehnik apapun namanya, dengan tujuan untk memperluas jangkauan “marketing” virtual para pelaku (pedagang) online shop dadakan yang tertarik dengan kemudahan dan keuntungan dari e-commerce. Kita sepakat dong, mereka yang melakukan itu pantaslah kita sebut sebagai manusia mental tempe, misalnya pemilik online shop yang samaskali tidak mencantumkan alamat di websitenya ini . Jangan tanya kenapa saya mengkonotasikannya dengan tempe, karena saya tidak punya pilihan lagi selain itu. Kalau ada yang mau usul, silahkan!!

Sayang skali yah, menjauhkan keberkahan dari keuntungan barang dagangannya.

*terinspirasi dari kejadian dimana akun FB teman saya pernah di bajak sama yang empunya web kemudian nyebarin produk ke semua grup yg akun teman saya itu ikuti.

2 Comments on "e-Commerce dan Manusia Mental Tempe"

Hai, would be nice if you leave a reply. :D