http://www.missouristate.edu/

Disability Awareness Camp: Inspirasi dan Keterbatasan

Beberapa hari yang lalu tepatnya pada hari Sabtu pagi (22/6) saya mendapati sebuah mention via twitter dari teman nyasar saya waktu di #ABFI2013 — Dimas, salahsatu sepuhnya Kartunet (Karya Tunanetra).

Karena kicauan itu pulalah akhirnya saya membatalkan rencana untuk ke perpus pagi itu. Mending kong-kongkow di kosan ajalah sambil menunggu siang, biar nanti di audit Sylva saya gak keterlaluan ngantuknya.

Setelah Dzuhura-an di kosan, saya langsung ke kampus dengan angkot dan tarif barunya, naik 500 perak. Di Audit saya ketemu om Adit dan Mail. Jadilah kami bertiga mewakili bloggerIPB di acara road to campus ke-7 nya kawan-kawan Indonesia Disabled Care Community (IDCC).

Disability Awareness Camp

Menurut Dimas, Disability Awareness Camp ini sendiri awalnya merupakan suatu proyek / tugas kuliah mahasiswa Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI) yang ditindaklanjuti dengan pembentukan IDCC.  Komunitas ini menyusun kegiatan-kegiatan mereka dengan prinsip kolaborasi antara penyandang disabilitas dan non-disabilitas.

Oke, kembali ke jalannya acara. Seperti acara kampus kebanyakan, maka harus ada kata sambutan dari beberapa pihak, ada ketua panitia, presiden BEM-KM IPB, dan juga tentunya dari Artajasa selaku sponsor acara. Dari semua sambutan ini sepertinya gak ada yang bisa saya ingat. Bagaimana bisa ingat, hampir satu jam pertama acara kebanyakan saya sibuk ngobrol dengan Dimas di deretan bangku paling belakang.

Perhatian saya mulai agak tertuju ke depan ketika ada peragaan yang mencoba menunjukan bagaimana lingkungan keluarga dan masyarakat sangat-amat berperan dalam men-support mental dan moral mereka yang menderitan menyandang disabilitas untuk terus maju dan berprestasi layaknya mereka yang diciptakan dengan normal. Melalui peragaan tersebut ditunjukan bagaimana seorang penderita penyandang disabilitas dapat menutupi kekurangan mereka dengan semangat hidup yang kapan saja bisa padam dan menyala tergantung ketersediaan bahan bakarnya. Bahan bakar yang dimaksud disini berupa dorongan moral dari lingkungan sekitarnya, baik itu orang tua, sahabat, guru serta teman sekelas. Yang insya Allah tidak akan mengalami kenaikan harga menjelang tahun 2014. :)

Acara semakin menarik dengan penampilan band dengan semua personilnya merupakan orang-orang luar biasa yang tergabung dalam komunitas Kartunet. Dengan “a thousand years” dari kakak Christina Perri yang dibawakan dengan sangat apik, cukuplah untuk membuat seisi audit menjadi agak romantis-romantis ekstrim. :v :v

Oke, beberapa kita skip saja ya. Langsung saja ke sesi talk show, dimana sesi dengan tema “break the limit” ini menghadirkan pembicara-pembicara yang terlibat langsung bahkan menjadi salahsatu penderita penyandang disabilitas.

Mba Angkie adalah seorang tunarungu yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi pada institusi dengan bidang keilmuan yang cukup kontradiktif dengan statusnya sebagai tunarungu, London School of Public Relation. Di usianya yang ke-21, beliau berhasil menjadi finalis None Jakarta sebagai wakil dari wilayah Jakarta Barat. Di tahun yang sama, beliau juga terpilih sebagai The Most Fearless Female Cosmopolitan 2008. Founder sekaligus CEO Thisable Enterprise ini juga telah menulis buku dengan judul Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas. Saya sendiri belum pernah membaca buku tersebut, tapi menurut Bowo Prabu, dalam bukunya itu, mba Angkie memuat pengalamannya menjalani pahit manis kehidupan sebagai tunarungu. Melalui bukunya itu beliau tidak menyampaikan segalanya akan berjalan mulus ketika tunarungu mencoba meraih masa depan, tapi lebih kepada bagaimana memperlihatkan bahwa setiap orang memiliki masa depan asalkan mau berusaha.

Riqo, seorang tunanetra yang saat ini menjabat sebagai ketua komunitas Kartunet. Kartunet merupakan komunitas terbuka dan independen yang bergerak untuk pengembangan minat bakat para penderita penyandang disabilitas serta kampanye peduli disabilitas melalui media internet. Media yang dimanfaatkan dibuat dan dikelola oleh sekelompok tunanetra, namun isi yang terdapat pada media tersebut ditujukan kepada masyarakat umum. Selain di Kartunet, saat ini Riqo juga bekerja sebagai telemarketing pada sebuah bank Asing di bilangan Sudirman — Jakarta — layaknya orang mainstream kebanyakan. :)

Pembicara ke-3 adalah bu Mitha. Beliau ini adalah seorang ibu dengan anak berkebutuhan khusus. Menjadi seorang ibu dari anak down syndrome membuatnya mendirikan HIOE Management, yaitu sebuah manajemen yang salahsatunya menangani jasa di bidang pendidikan homeschooling untuk anak-anak dan berkebutuhan khusus.

Talk show yang berjalan cukup interaktif ini sukses membuka mata para peserta yang di dominasi mahasiswa IPB tentang pentingnya kepedulian serta respect kita kepada para penderita penyandang disabilitas. Bukan sekedar merasa kasihan, tapi lebih kepada rasa menghargai sebagai sesama ciptaan Allah yang masing-masing punya hak atas masa depan yang lebih baik. Karena sesungguhnya mereka tidak butuh dikasihani, yang mereka butuhkan adalah dukungan dan kesempatan untuk terus berusaha.

Yah, mungkin diluar sana masih banyak orang-orang yang dilahirkan dan ditakdirkan untuk tidak menjadi mirip seperti kita pada umumnya secara fisik, namun hal itu tidak menjadikan mereka pantas untuk di cap sebagai anak tidak normal, bahkan kadang-kadang kita termasuk saya masih sering menyebut mereka sebagai penderita disabilitas.

Boleh saja mereka kita sebut sebagai penderita disabilitas, tapi apakah hal itu benar-benar membuat mereka menderita?. Saya rasa tidak, Dimas Prasetyo Muharam telah membuktikan kalau ke-tunanetra-an telah membuatnya memiliki semangat dan motivasi lebih untuk berprestasi dan menikmati kehidupan. Tanpa perlu repot-repot menjaga pandangan atas apa-apa yang belum halal bagi matanya. Meskipun pada twitnya juga kadang-kadang bikin saya ampun dah nih bocah. Parah lu Dim. :v :v :v

Boleh saja kita mengatakan mereka adalah manusia-manusia yang diciptakan dengan keterbatasan fisik, tapi apakah kita yang secara fisik memiliki segalanya ini bisa se inspiratif mba Angkie?. Aduuuhhhh…. nulis satu buku-pun belum, sekalinya nulis buku malah skripsi, itupun selesainya entah kapan. Maluuuu.

Boleh saja kita mengatakan kalau mereka itu tidak normal. Tapi, Riqo membuktikan orang tanpa penglihatan pun masih tetap mampu memainkan gitar, bekerja di Bank, bahkan menikahi gadis idamannya.

Apa itu masih tidak normal? Ya, mungkin secara fisik mereka tidak normal, tapi terlepas dari semua itu ya mereka tetap tidak normal, mereka melebihi kita yang biasa-biasa aja, mereka melebihi normal.  Mereka luar biasa dengan keterbatasan yang membuat mereka istimewa.

11 Comments on "Disability Awareness Camp: Inspirasi dan Keterbatasan"

  • keterbatasan tidak membuat mereka berhenti melangkah untuk berprestasi dan sukses. sangat inspiratif terutama buat saya, saya tidak boleh kalah dengan mereka2
    terima kasih share-nya mas, sangat bermanfaat

    • sama sama mas… keterbatasan itu kadangan membuat kita u/ memaksimalkan potensi yang ada. dan yah… jadinya seperti beliau beliau itulah. terima kasih sudah berkunjung. :)

  • Halo, salam kenal.. maaf kunjungan baliknya baru sekarang :D Keren ya mereka.. berasa ga update banget saya sampe yg muncul di pikiran adalah pertanyaan bodoh seperti “Eh, gimana caranya para tunanetra mainan Twitter, FB, dkk. ya?” #gubraks Soalnya begitu baca ini juga jadi inget, enam tahunan lalu sempat aktif jadi reader di panti tunanetra di Bandung, tapi belum zamannya socmed, jadinya ga kebayang :) Baru tahu juga ada tokoh inspiring kaya Angkie, duuuh.. berasa kecil, umur sama, tapi bisa berkarya lebih daripada saya meskipun pendengarannya terbatas >_< Semoga kita jadi orang yg pandai mensyukuri nikmat, masbro..

    Salam, @creativega

    • terima kasih ya sudah pernah jadi reader untuk teman2 tunanetra di WG. bentuk mensyukuri nikmat itu adalah dengan berbuat sesuatu bagi orang lain. kontribusi dan terus berkontribusi. tak hanya sebagai motivasi pribadi tanpa dampak sosial :)

    • salam kenal balik mba Ega. iya mba, kadang kita harus dipertemukan dan melihat kerja kerja mereka yg secara fisik tdk selengkap kita namun mampu menghasilkan sesuatu sama bahkan melebihi org2 yg notabene sempurna secara fisik.

  • Hi Mas Ikhsan,
    salam kenal, saya suka liputannya. (y)
    btw, kalau boleh kasih masukan, kata penderita disabilitas mungkin bisa diganti jadi penyandang disabilitas karena seperti yang Mas sampaikan, pada kenyataannya mereka nggak menderita kan? :)

    Salam Inklusif!

    • Halo juga mas Ainun (semoga gak salah), salam kenal. maaf kurang konsisten dalam penulisannnya. sudah saya revisi mas. trimakasih masukan dan koreksinya. :)

  • sial. twit gw yang itu malah dimasukin lagi. hahaha. tapi ga masalahlah, anggap aja promosi dan publik tahu preferensi gw seperti apa #eaa. anyway, thanks ya bro udah mau menyempatkan waktu buat hadir. terima kasih juga ke teman2 #IPB dan khususnya blogger IPB yang sudah meramaikan acara. Lumayan bisa agak bergokil ria kita di barisan belakang dan membombardir layar depan dengan twit2 yang beberapa kali buat hang screen. ya, meski pesanan gw ga dibawain #halah. Sukses selalu. oia usul dikit ah. kata “penderita” diganti dengan kata “penyandang” juga boleh bro. ya, ga terlalu ngaruh sih. tapi biar seragam aja dgn yang ada di undang-undang. salam bloggers! :)

Hai, would be nice if you leave a reply. :D