[Cikuray-Papandayan] Kebersamaan di Puncak Cikuray

Pekan ke-12 kuliah tidak menjadi halangan besar untuk sedikit bergeser koordinat ke Garut, apalagi dengan adanya early weekend dan juga salahsatu tujuannya kesana untuk menikmati keindahan Garut langsung dari atapnya, gunung Cikuray. Bersama Ryan, Upay, Roy, Nurul, dan Suci serta tak lupa ada Uki yang bergabung H- belasan jam sebelum keberangkatan.

Rabu, 16 Mei 2012
Berangkat dari kosan sekitar pukul 16.20an menuju “terminal” anak-anak IPB yang juga difungsikan sebagai kantor cabang salah satu bank nasional di Indonesia. Kalau ingin mengikuti jadwal yang telah disepakati, harusnya semua sudah kumpul tepat pukul 16.30 di “terminal” IPB kemudian lanjut ke rumah Ryan di daerah Pagelaran. Tapi tidak seperti biasanya, kali ini Ryan benar-benar on time, malahan Upay dan yang lainnya yang telat banget sehingga keputusannya saya dan Ryan berangkat duluan ke Pagelaran.
Plan awal yang seharusnya berangkat dari Pegelaran ba’da Magrib, ngaret hingga pukul 10an malam sehingga rute pun harus berubah, yang awalnya menuju terminal Baranang Siang kemudian dialihkan ke Ciawi. Sesampai di Ciawi, bus yang langsung menuju Garut gak kunjung muncul, akhirnya diputuskan untuk sedikit berimprovisasi dengan mengambil bus menuju Kampung Rambutan kemudian nyambung dengan bus yang langsung ke Garut.
Kamis, 17 Mei 2012
Pemancar Gunung Cikuray

Pemancar

Sekitar satu jam menuju adzan subuh, bus Saluyu yang kami tumpangi sampai juga di terminal Guntur, Garut. Di terminal, kami bertemu dengan beberapa kelompok pendaki lainnya.Salah satunya kelompok Tedi dkk, pendaki dari Universitas Jayabaya yang berjumlah empat orang, bersama mereka inilah akhirnya kami berkoalisi mencarter angkutan (elf) ke Pemancar, salah satu titik start jalur pendakian ke puncak Cikuray.
Tidur selama perjalanan menuju Pemancar, akhirnya sekitar pukul enam pagi kendaraan sampai di pos informasi PTPN VIII yang juga berfungsi sebagai pos pendaftaran bagi para pendaki. Selagi Upay mengisi “buku tamu” saya numpang bersih-bersih isi perut dan sholat subuh di pos ini, sementara yang lainnya ada juga yang menikmati udara pagi khas kebun teh.
Pukul 6.20an perjalanan menuju Pemancar kemudian dilanjutkan, dengan jalur mengitari bukit perkebunan teh yang menghijau. Sekitar pukul setengah delapan kami sampai di Pemancar. Selain kami dan juga kawan-kawan dari Jayabaya, di Pemancar sudah datang terlebih dahulu dua kelompok pendaki dari Bekasi. Di Pemancar ini logistik di keluarkan untuk ngopi dan masak sarapan dengan menu sekaleng kornet, sebutir telur dan juga nasi putih yang masing-masing mendapat jatah sekitar tiga sendok makan. Sekitar pukul 10an, tanpa lupa berdoa dan sedikit arahan dari pimpinan pendakian (Ryan), kami memulai langkah menuju atap Kab. Garut menyusul tiga kelopok yang sudah berangkat lebih awal.
Ilkom naik gunung Cikuray

foto keluarga dulu sebelum nanjak

Sesuai dengan apa yang saya baca di beberapa blog, tracknya memang cukup terjal begitu meninggalkan kebun teh dan memasuki hutan yang masih asli. Dengan kemiringan sekitar 80° bahkan ada yang sekitar 90°, beberapa kali mata saya harus bertemu dengan mata kaki Roi yang berjalan di depan saya. Tapi dengan aroma terapi asli langsung dari hutan dan juga teriakan-teriakan Roi yang tidak pernah lepas dari kata “keram” rasa lelah tidak begitu terasa. Bahkan kami berhasil “mengejar” tiga kelompok yang jalan lebih dahulu.
Sekitar pukul 15.00an, akhirnya sampai juga di pos Bayangan yang berjarak sekitar dua jam perjalanan lagi menuju puncak Cikuray. Di pos ini kami bersama tiga kelompok lainnya memasang tenda, bersih-bersih seadanya serta sholat dan masak kemudian istrahat untuk melanjutkan pendakian ke puncak Cikuray.
Jumat, 18 Mei 2012
Setelah tidur selama beberapa jam, kami kemudian terbangun sekitar pukul empat subuh. Sementara beberapa pendaki sudah mulai melanjutkan perjalanan, kami baru memulai menyalakan kompor untuk masak. Setelah ngopi dan juga sholat subuh, dengan hanya membawa senter, kamera dan daypack yang berisi air beberapa botol dan juga makanan kecil kami memulai pendakian menuju puncak Cikuray sekitar pukul lima subuh. Meskipun dengan kabut yang masih lumayan tebal dan juga suhu yang cukup dingin (sekitar 17 atau 19 derajat Celcius) ditengah perjalanan sesekali kami berhenti dan memandang sun rise dengan warna merah saganya yang indah. Menyaksikan langit subuh dari jendela kosan aja sudah membuat “wow effect”, kali ini saya menyaksikannya dari ketinggian yang seolah-olah saya sejajar dengan matahari yang berlahan mengintip tanah Garut.
Puncak Cikuray

Sekitar pukul tujuh pagi, akhirnya kami sampai di puncak Cikuray yang ternyata telah ramai dengan pendaki yang telah lebih dulu naik dan menikmati sunrise dari ketinggian 2.818 mdpl. Bahkan saya ternyata ada tambahan pendaki dari Bekasi dan Semarang yang tiba di pos Bayangan pada saat kami sedang tertidur lelap. Saya merasa mendapat bonus di puncak Cikuray karena dipertemukan dengan kawan-kawan dari semarang yang ternyata anak KAMMI Undip.

KAMMI di Puncak Cikuray

Setelah mengambil beberapa gambar dan juga menyaksikan Nurul, Suci, Upay dan Roi melakukan dance ala JKT48 yang memang telah menjadi misi mereka sejak sampai di Pemancar, kami bersama semua pendaki sepakat untuk berfoto bersama, meskipun ini bukan pendakian massal, tapi di puncak Cikurai sangat terasa kalau kami semua begitu dekat. Here we are…
bukan pendakian massal

foto bareng pendaki lainnya

Setelah narsis-narsisan, kami kemudian meninggalkan puncak Cikuray untuk kembali ke pos Bayangan. Sekitar pukul sembilan, kami sudah kembali berada di pos Bayangan. Kemudian masak buat sarapan sambil beres-beres tenda.
Pukul 10an, kami pun meninggalkan pos Bayangan untuk kembali ke Pemancar. Diperjalanan turun inilah kami berpapasan dengan kelompok pendaki yang ternyata adalah abang-abang dan mbak senior di Ilkom, Ilkom angkatan 44/2007.
pendakian ilkom ipb

kami pulang, mereka datang :D

Pukul 14.00an, akhirnya semua rombongan kami kembali ke Pemancar dengan lengkap, kemudian menyusul kelompoknya Jayabaya beserta kelompok paragembelgembel.
Pukul 16.00an mobil jemputan kami muncul, meskipun beda tujuan, kembali kami bersama kawan-kawan dari Jayabaya beserta Om-om Gembel berkoalisi mencarter mobil jemputan yang juga merupakan mobil yang membawa kami ke Pemancar. Kalau kami masih akan lanjut untuk pendakian Papandayan, mereka malah sudah mau balik ke rumah masing-masing, sehingga pemberhentian pertama mobil tumpangan kamai adalah mengantarkan Tedi cs dan paragembel ke terminal Guntur kemudian mengantarkan kami ke titik start pendakian Papandayan.
NB:
Om Gembel-gembel: Trimakasih buat suplai logistik ke Papandayannya.
Jayabaya: Makasih udah mau motoin kita. Ini hasil jepretan kalian, keren bro!!

matahari cikuray

Mari kita  luruskan niat, kita mendaki bukan untuk menaklukan puncak Cikuray, tapi kita mendaki untuk mentadabburi indahnya ciptaan Allah. (Ryan saat memimpin doa sebelum memulai pendakian)

Thank you Allah, You have allowed us to enjoy the beauty that not everyone can enjoy it. Super, Dibag!!!!

 #Nantikan Cerita di Gunung Papandayan (udah rilis)

11 Comments on "[Cikuray-Papandayan] Kebersamaan di Puncak Cikuray"

Hai, would be nice if you leave a reply. :D