[Cikuray-Papandayan] Bunga Abadi Bernama Edelweiss

By | 26 May 2012

Ini adalah lanjutan tulisan saya kemaren, karena sebenarnya tulisan kali ini juga berisi kelanjutan perjalanan pada tulisan kemaren. Oke… mari menuju ketinggian 2.665 mdpl yang katanya di sana terdapat bunga abadi.

Jumat, 18 Mei 2012
Pukul  17.00an kami sampai di terminal Guntur untuk men-drop paragembelgembel dan rombongan Tedi cs (Univ. Jayabaya) serta mampir sebentar ke minimarket guna me-refill logistik khususnya air untuk bekal ke dan di puncak Papandayan, barulah kemudian melanjutkan perjalanan menuju kaki gunung Papandayan. Di tengah perjalanan kami memutuskan untuk singgah di sebuah rumah makan Padang sekalian menunggu waktu Magrib.
Sehabis sholat magrib, perjalanan kemudian dilanjutkan dan kami sampai di pos informasi pendakian Papandayan sekitar pukul 20.00an. Keluar dari mobil carteran kami langsung disambut udara dingin, rintik hujan dan kabut tebal yang membuat jarak pandang hanya mencapai dua meteran. Saya sempat motret-motret ke arah kabut yang hasilnya serem-serem loh…
Hantu Papandayan

Nurul | Roy

Niat awalnya kami ingin melakukan pendakian malam menuju puncak Papandayan, tapi karena kabut tebal dan banyaknya jalur pendakian yang dapat membuat para pendaki bingung dan nyasar membuat petugas pos informasi tidak memberi kami izin untuk melakukan pendakian malam. Demi keselamatan dan kebaikan bersama, akhirnya semua sepakat untuk menunda pendakian hingga pukul tujuh esok pagi. Sehingga untuk malam ini kami harus mendirikan kemah di sekitar pos informasi bersama beberapa pendaki lain yang senasib.
Menurut petugas setempat, pendakian ke Papandayan tidak seperti pendakian ke Cikuray yang tidak dibatasi waktunya. Untuk pendakian ke Papandayan normalnya hanya dibolehkan dari pukul empat subuh hingga pukul lima sore.
Sekitar pukul 22.00an kami masuk tenda masing-masing (tendanya ada dua, tenda Putra dan Putri), tentunya setelah makan malam dan juga ada sedikit evaluasi serta sidang umum dengan tersangkanya si Uki.
Sabtu, 19 Mei 2012

Papandayan, Pendaki Papandayan

Sekitar pukul lima subuh, kami sudah mulai siap-siap untuk mendaki puncak Papandayan. Setelah sholat subuh di mushollah dekat pos informasi saya bersama Upay, Nurul dan Suci kemudian menyiapkan sarapan. Sementara kami memasak, Ryan, Uki dan Roi beres-beres tenda.
Pukul 07.05 kami sudah bersiap mendaki. Sesuai saran petuga pos informasi, akhirnya kami mendaki bersama kelompok dari Sukabumi yang ditemuai Upay semalam, hal ini kami lakukan karena diantara mereka berempat ada yang sudah cukup kenal dengan track pendakian.
Diawali dengan doa yang pimpin Ryan, kami memulai langkah menuju puncak Papandayan. Meskipun jalur yang kami lalui jauh lebih landai dari jalur Cikuray, tapi tetap saja menuju puncak Papandayan butuh konsentrasi dan serta kehatian-hatian ekstra kalau tidak ingin tergelincir dan berenang di air belerang. Selain itu, asap belerang cukup membuat pernafasan sesak dan mata terasa perih. Untungnya, kami sudah mempersiapkan masker sejak dari Bogor.
Satu lagi perbedaan mencolok  track Cikuray dan Papandayan, kalau di Cikuray track-nya lumayan rindang dan teduh karena kita memang melewati kawasan hutan yang masih terjaga, sementara track di Papandayan sangat kering dan terkesan gersang serta berbatu yang merupakan bekas-bekas letusan Papandayan pada tahun 2002 lalu.

Pondok Salada, PapandayanSekitar pukul 10an, kami sampai di Pondok Salada. Secara fungsional hampir mirip dengan pos Bayangan di Cikuray. Berupa tanah lapang yang sering dijadikan tempat untuk memasang tenda sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak. Bahkan bagi beberapa pendaki ada yang hanya sampai di Padang Salada hanya untuk sekedar memasak dan mekan bersama alam bebas. Di Pondok Salada ini pula pendaki yang ingin melanjutkan perjalanan ke puncak dapat mengisi ulang air bawaan mereka. Sekedar info, di Pondok Salada ini anda akan mulai mendapati Bunga Abadi yang hanya tumbuh pada ketinggian di atas 2.000 mdpl, atau lebih dikenal dengan nama Edelweiss. Kami kembali memulai perjalan ke puncak setelah istirahat sejenak di Pondok Salada serta menitipkan beberapa barang bawaan yang tidak begitu diperlukan kepada kawan-kawan dari Sukabumi yang ternyata hari itu hanya sampai dan berkemah di Pondok Salada.

jalur pendakian papandayan

sambil nanjak kita foto-foto

Selama perjalan dari Pondok Salada menuju puncak kami tidak pernah menemukan track bonus (track datar) kecuali di kawasan yang dikira Tegal Alun, berupa dataran lumayan luas ditumbuhi Edelweiss. Bahkan semakin jauh berjalan lintasannya pun semakin menanjak, bahkan ada yang mencapai kemiringan 90° dengan medan dinding batuan berupa bekas sungai yang mengalir dengan kemiringan yang cukup ekstrim.
Sekitar pukul 13.00an, setelah melewati Tegal Alun padang Edelweiss. Tanpa sepengetahuan kami, ternyata kami telah sampai di puncak. Ini dikarenakan puncak yang kami dapati bukan berupa area padang ilalang maupun tanah lapang seperti puncak Cikuray, namun berupa pohon-pohon kecil setinggi 3-4 meteran dan cukup rapat.  Untung disana sudah ada kelompok pendaki “independen” (kata Wenty) yang sedang ngaso di bibir tebing, mereka merupakan gabungan pendaki dari FISIP-UI Depok (Wenty dan Mas Danar) dan Univ. Pasundan Bandung (Janu dan Kang Sany), dari merekalah kami mengetahui ternyata kami telah berada di puncak Papandayan.
hamparan edelweiss papandayan

Hamparan Edelweiss | photo by Wenty (Lanscape Gunung Papandayan 18-20 Mei 2012)

edelweiss papandayan

Hamparan Edelweiss | photo by Wenty (Lanscape Gunung Papandayan 18-20 Mei 2012)

 “Edelweiss.. Edelweiss.. Every morning you greet me. Small and white, clean and bright. You look happy to meet me... Blossom of snow,may you bloom and grow. Bloom and grow forever. Edelweiss, Edelweiss, Bless my homeland forever
(Edelweiss by Sound of Music)

Bersambung…

21 thoughts on “[Cikuray-Papandayan] Bunga Abadi Bernama Edelweiss

    1. pararang Post author

      trimakasih… boleh tu kapan2 pendaki yg suka ngeblog ataupun blogger yg suka nanjak jalan bareng entah ke puncak mana…

    1. pararang Post author

      iya, seandainya agak telat datangnya mungkin bisa ngeliat hamparan bunga edelweiss.

    1. pararang Post author

      sama mas, sya jg masih pengen kesana. pengen ktemu bunga edelweiss nya langsung.

  1. Pingback: [Cikuray-Papandayan] Menikmati Hutan Mati Papandayan

  2. Pingback: [Cikuray-Papandayan] Kebersamaan di Puncak Cikuray - is #MuhammadIkhsan

    1. pararang Post author

      yoi. semua rasa lelah terbayar lunas. :D. bahkan lebih.

  3. My Blog

    Semoga ada waktu dan kesempatan, untuk kutapaki jalan setapaknya hingga kucapai puncaknya, sembari kujamahi Padang Edelweessnya… Edelweiss forever in bloom

    Reply
  4. pararang

    beda gmana??? lebih renyah ya bang… hahahaahahahh…

    bolehlah…. sponsor utama juga ilkom44… oke oke…

    Reply
  5. sayed.dedota

    skali² ke merbabu tuh, turun lewat selo, edelweisnya beda banget….

    taun depan pendakian massal ilkom?
    mungkin bro tits kom44 bisa jadi korlap lagi?

    Reply
  6. titoHeyzi

    wowwwww..
    edelweis nya kayak di TNGP dah..
    parah mana dengan track d cikuray nih.. :p
    bau belerangnya kerasa banget??
    jadi makin penasaran k papandayan..

    Reply
  7. pararang

    parahan track di Cikuray sih kalo kita ngambil jalur yang memutar… bau belerang kerasa banget bang, sampe masker gw brubah warna jadi kuning..

    Reply
  8. pararang

    @wenty: malah kesannya kayak pendaki2 putus asa yang gak nemu2 puncak… siap turun dengan jalur express

    @kak ical: iya bang… keren dah… meskipun belum semua sih… hanya sebgian kecil

    Reply

Hai, would be nice if you leave a reply. :D