Balada Botak dari Masa ke Masa

Ijinkan saya dengan hormat bercerita tentang botak. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti pertama dari kata ‘botak’ adalah tidak berambut (tt kepala orang); gundul. Sedangkan pada kepala binatang yang juga merupakan arti kedua dari kata “botak”, berarti tidak berbulu. Untuk lebih jelasnya dan supaya anda lebih ngeh, silahkan cek sendiri di KBBI online [http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/]. Namun, dalam kesempatan kali ini, “bota” akan saya artikan sesuai dengan KBBI (Kamus Besar Bahasa Iccang), yaitu tetap berambut namun tidak lebih dari 1/2 cm.

Mungkin anda bertanya dengan tidak keren kenapa saya tertarik menulis tentang balada botak?.
Alasannya adalah sebuah pertanyaan dari saya yang cukup keren, apakah anda sudah berambut pada saat pertamakali meninggalkan rahim Ibunda anda?.

Kalau anda menjawab iya, berarti anda saya kecualikan dari objek yang kita bicarakan. Tapi itu mustahil juga sih.

Mengenai botak, sekarang saya akan sedikit berbagi tentang bagaimana hidup saya ini dipenuhi dengan botak, botak, dan botak lagi.Pertama, saya botak sejak pertama kali menghirup udara bumi, udara yang telah dibuat gratis oleh Allah swt. Sehingga sekarang saya tidak perlu minta duit tambahan untuk keperluan membeli udara guna menjaga hidup sehari-hari saya, satu dari sekian banyak bukti betapa sungguh Maha PemurahNya Dia. Yang jelas, adik perempuan saya juga botak waktu lahir. Anda bagaimana? Gondrong ya waktu dilahirkan kedunia? Hahahaha… Disini saya botak karena takdir, dan hanya ditahap kehidupan inilah saya di anggap lucu ketika botak.

Kedua, masuk SD hingga SMP saya lebih senang berkeliaran dengan modal rambut botak. Tidak tahu kenapa saya lebih percaya diri dan merasa terlihat lebih elegan dengan kepala tanpa rambut berlebih. Disini saya botak karena kemauan sendiri, soalnya waktu itu botak lagi ngetrend dikalangan bocah 17–.

Ketiga, tahap saya berada di SMA tercinta, SMA Neg 5 Makassar. Lagi-lagi botak, peraturan mengharuskan. Setiap awal bulan pasti ada razia kepala disekolah. Disini trend rambut botak sudah ditinggalkan, mungkin karena sudah banyak produk sampo anti ketombe yang beredar di pasaran. Nah, disini saya botak karena beberapa pahlawan ber-ijazah, yaitu duet yang pada masanya merupakan ganda putra terbaik dan paling terkenal di SMUNEL, Double M; Ayahanda Pak Mustari (Guru Bhs. Inggris) dan Pak Mustafa (Guru Bhs. Indonesia). Terimakasih telah mengajari kami bagaimana seharusnya berpenampilan layaknya seorang lelaki, bukan seorang perempuan; rambut sepunggung, berponi dll.

Keempat, sekarang sudah mahasiswa. Trend botak dikampus cuma nge-wah pada saat para senior lagi ababil; Masa Perkenalan Mahasiswa Baru, Masa Perkenalan Fakultas dan Departemen. Selebihnya, silahkan gondrong, meskipun pada awal masuk kampus kita telah dibacakan peraturan yang mengharuskan setiap yang tidak berjenis kelamin wanita agar rambut tidak menutupi telinga. Intinya, kalaupun dikampus saya botak, itu dikarenakan PERMINTAAN FANS. Ehehehehe….

Betapa indahnya gratisan, rambut tumbuh gratisan, bernafas dengan udara gratisan. Betapa semua nikmat Allah yang tiada terkira. Untung Allah gak buka jasa peminjaman udara dan rambut, Dialaha yang Maha Kaya, yang memiliki apa yang di langit dan di bumi. Yang Maha Mencintai makhluknya, Maha Pemurah dan Penyayang. Coba bayangkan seandainya sehelai rambut itu disewakan kepada kita? Sehirup udara itu harus kita beli?

Maka Nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? [Q.S Ar Rahman]

1 Comment on "Balada Botak dari Masa ke Masa"

Hai, would be nice if you leave a reply. :D