gambar-3-srikandi

3 Srikandi: Terwujudnya Mimpi yang Terwariskan

Habis nonton 3 Srikandi tadi siang, diluar rencana sih. Awalnya ke BTM gegara mau ke Nokia Care benerin HP tapi gak jadi gegara ngantrinya panjang. Habis dari Nokia Care lalu lanjut ke XXI, nontonlah saya film Indonesia yang warbiyasa ini. Sebenarnya saya sendiri sudah tau perihal produksi film ini sejak tahun lalu. Taunya gegara saya ngefollow seorang tetuah blogger Indonesia yang sekaligus sutradara film 3 Srikandi ini, Iman Brotoseno. 

Film 3 Srikandi diangkat dari kisah nyata perjuangan Nurfitriyana (Bunga Citra Lestari), Kusuma Wardhani (Tara Basro), dan Lilies Handayani (Chelsea Islan). Mereka merupakan atlet putri cabang olahraga panahan yang tergabung dalam kontingen Indonesia untuk berlaga di Olimpiade Seoul 1988.

Dari panahan putri inilah satu-satunya medali yang diperoleh Indonesia di Seoul saat itu. Medali perak yang mereka peroleh ini juga menjadi pemecah telur perolehan medali Indonesia sepanjang ikut berlaga di Olimpiade.

3 Srikandi dan Robin Hood Indonesia

Tiga atlet yang berasal dari latar belakang daerah dan keluarga berbeda ini kemudian dipertemukan di pusat pelatihan nasional. Di Pelatnas inilah mereka dilatih oleh Donald Pandiangan (Reza Rahadian), mantan atlet panahan yang disebut-sebut sebagai Robin Hood Indonesia. Seorang legenda yang digadang-gadang mampu menyumbang medali di Olimpiade Moskow 1980. Namun hal tersebut urung terjadi karena Indonesia membatalkan keikutsertaanya sebagai bentuk boikot atas invasi Rusia ke Afganistan saat itu. Pembatalan yang berbau politis inilah yang kemudian membuat Bang Pandi (Panggilan Donald Pandiangan) kecewa kemudian menghilang dari dunia olahraga.

3-srikandi

sumber: http://jadiberita.com

Delapan tahun kemudian, 1988, Bang Pandi kembali ke dunia olahraga sebagai pelatih putri di Pelatnas panahan   setelah dibujuk oleh Sekjen Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) saat itu,  Udi Harsono (Donny Damara). Di Pelatnas inilah Bang Pandi mewariskan mimpinya kepada ke 3 Srikandi untuk membawa pulang medali Olimpiade ke Indonesia. Dengan kepelatihan Bang Pandi yang tegas, keras dan sangat disipilin inilah 3 Srikandi berhasil membawa pulang medali Olimpiade, mimpi yang urung Bang Pandi capai delapan tahun sebelumnya. Meskipun bukan sebagai atlet, namun kepelatihan dan dorongan moral Bang Pandi menjadi salah satu faktor kemenangan Yana, Suma dan Lilis sehingga mampu mewujudkan mimpi membawa pulang medali Olimpiade.

Reza Rahadian Lagi

Pembawaan karakter Bang Pandi oleh Reza Rahadian sangat natural. Reza ini sepertinya memang bisa menjadi apa saja, saya kepikiran mungkin satu-satunya karakter yang tidak bisa dimainkan dengan baik oleh Reza Rahadian adalah karakter dirinya sendiri. Tapi itu sepertinya tidak mungkin juga sih, jadi presiden dan atlet aja bisa, masasih meranin bintang film gak bisa. Ehhehehee

Jadi keingat, pernah baca twit lupa dari siapa, waktu itu lagi rame-ramenya Reza muncul di banyak film, sekarang juga masih rame sih. Kira-kira gini tuitnya; “nanti kalo ada yang bikin film biografinya Reza Rahadian, paling yang meranin karakter Reza Rahadian-nya si Reza Rahadian lagi“.

Oh yah, ada satu adegan saat pelepasan kontingen, dimana saat itu Bang Pandi maju dan bersalaman dengan presiden Soeharto. Apakah ini sebuah tanda bahwa kelak akan ada film biografi presiden Soeharto, dan pemeran karakter Soeharto adalah Reza Rahadian……. LAGI? Eheheheheeheee *cocoklogiAlaKonpiresyenWahyudi

3 srikandi

Lalu ada tiga mba-mba cakep; BCL, Chelsea, dan Tara. Memerankan sebagai atlet paling senior diantara mereka bertiga, BCL memang dapat feelnya, dewasa dan keibuan. Pergulatan batinnya adalah ketika dia harus memilih mengejar mimpinya meraih medali di Olimpiade atau mematuhi tuntutan Ayahnya untuk segera lulus kuliah. Meskipun telat bergabung, karena rencana awalnya karakter Yana ini diperankan oleh Dian Sastro, BCL sepertinya tidak mengalami banyak kesulitan untuk mengejar ketertinggalannya dengan dua lainnya. Oh iyah, OST nya juga BCL yang nyanyiin, asik sih dengernya.

Di film ini, sosok Chelsea yang anggun manis dan  tuan puteri-esque berubah menjadi sosok kusogaki medok yang ngejawa abis. Karakter Lilis yang berlatarbelakang keluarga atlet ini mengalami dramanya sendiri ketika harus memilih calon suami antara si pengusaha yang di calonkan Ibunya atau pilihan hatinya sendiri seorang atlet silat.

Tara Basro? Pembawaanya sebagai Suma si atlet dari Ujung Pandang sangat pas. Dari logat dan pembawaannya. Awalnya saya terperangah juga, hebat bener si Tara ini logat Bugis-Makassarnya. Tapi setelah browsing-browsing, ternyata berlogat Bugis-Makassar sepertinya bukanlah yang harus dipelajari khusus olehnya. Artis cewek bernama lengkap Andi Mutiara Pertiwi Basro ini memang punya dara Bugis dari Ibunya. Sosok Suma mendapatkan jatah dramanya sendiri ketika harus memilih ikut seleksi pelatnas ataukah harus menuruti kata-kata ayahnya agar melanjutkan prose seleksi PNS di Ujung Pandang. Karakter orang tua dengan standar kesejahteraan yang masih banyak saya temui di Sul-Sel; PNS is life, PNS id future.

Dari segi kepuasan, sebagai penonton saya sangat puas. Tidak ada ruginya menonton film ini. Momen pemutarannya juga pas, selang sehari sebelum Opening Ceremony Olimpiade Rio 2016 di Brazil. Alurnya lurus-lurus saja. Komedi, drama, romansa, dan pesan moralnya ditakar dengan pas. Jadinya pas nonton ya semuanya masuk akal sih. Gak neko-neko, keterima logika, asik mencerdaskan.

Kalo ada yang kurang dari apa yang saya ekspektasikan, paling lagu Padamu Negeri ataupun Indonesia Raya yang gak muncul sekalipun. Selebihnya, NONTONLAH!!!

sepenggal tulisan tentang Donal Pandiangan di blog mas Sutradaranya: http://blog.imanbrotoseno.com/tangis-donald-pilihan-kita/

Hai, would be nice if you leave a reply. :D